3 Nafas Likas

Satu lagi film Indonesia yang mengangkat kisah seseorang yang berjasa bagi bangsa dan Negara. Likas Tarigan, istri dari pejuang kemerdekaan Indonesia, Letjen Djamin Ginting. 3 Nafas Likas menceritakan kisah Likas sejak masa kecil di pelosok Sumatera Utara hingga menjadi istri seorang Duta Besar Indonesia di Kanada. 3 Nafa Likas mengambil periode tahun masa sebelum kemerdekaan, tahun 1930an, masa pra kemerdekaan 1940an, masa pasca kemerdekaan/ agresi militer 1946 hingga tahun 1965 gerakan 30 September, dan masa 1970an.

3 Nafas LikasPada dasarnya film ini menarik untuk ditonton, menambah referensi dan pengetahuan tentang pejuang kemerdekaan, perjuangan Likas dan suaminya Letjen. Djamin Ginting. Rako Prijanto, sutradara terbaik FFI 2013 dalam Film Sang Kyai dipercaya mengarahkan film ini. Ada kesamaan genre antara 3 Nafas Likas dan Sang Kyai, bercerita tentang ketokohan seseorang (biografi). Film ini dikemas menarik, dengan setting waktu yang panjang, dari tahun 1930an hingga 1970an. Namun film terasa datar, tidak ada klimaks dalam ceritanya. Memang tidak mudah mengangkat sebuah kisah nyata menjadi sebuah film/cerita.

Keunggulan dari film ini, menampilkan daerah daerah pedesaan dan Danau Toba yang indah, sebagai kekayaan Indonesia. Desa desa tradisional Karo dengan rumah adatnya. Kebun dan lahan pertanian sebagai sumber pendapatan masyarakat pedesaan Sumatera Utara.

Pemeran pemeran yang ikut ambil bagian dalam film ini menampilkan kemampuan akting yang menarik perhatian. Atiqah Hasiholan yang berperan sebagai Likas, berakting dengan sangat baik, menampilkan Likas perempuan Karo yang berani, semangat dan gigih. Logat dan dialek daerahnya juga sempurna. Begitu juga dengan Vino G Bastian, kemampuan dan totalitasnya berperan sebagai Letjen Djamin Ginting patut diacungi jempol. Serasa orang asli Karo yang memainkan peran tersebut. Jajang C. Noer sebagai Ibu Likas, kiprahnya tidak diragukan lagi. Kemampuan beliau yang mampu memerankan peran dari berbagai daerah (Minang, Jawa, Batak Toba, Dayak) melengkapi film ini. Namun penempatannya sebagai Ibu LIkas di masa kanak kanak kurang pas, Jajang terlalu tua memerankan tokoh tersebut. Bahkan terlihat seperti nenek nya Likas. Begitu juga dengan Tuti Kirana sebagai Likas tua, terlalu muda memerankan nenek berusia “90” tahun. Walau rambut dibubuhi uban, namun kulitnya masih terlihat seperti usia 60an.

Film ini dikemas apik dengan soundtrack yang diciptakan dan juga dibawakan langsung oleh Tulus. Lagu baru berjudul “Lekas”. Namun, iringan musik dan lagu terasa sangat minim dalam film ini. Ketika membaca bahwa film ini bercerita tentang Likas seorang perempuan Karo, banyak yang membayangkan bahwa akan ada iringan musik tradisional yang mencerminkan Budaya masyarakat Karo. Ini yang tidak dijumpai dalam film ini. Sangat disayangkan sekali. Ketika menampilkan desa desa tradisional atau landskap Danau Toba atau lahan pertanian, penata musik seharusnya bisa  menambahkan iringan musik tradisional agar membuat cerita benar benar lengkap dan sempurna. Lagu nuansa perjuangan juga tidak ditemukan dalam film ini, padahal film banyak sekali menampilkan adegan adegan peperangan antara pejuang dan penjajah. Sayang sekali. Padahal saya sangat berharap lagu Erkata bedil yang merupakan lagu perjuangan masyarakat Karo dalam mengusir penjajah. Lagu lagu karya Djaga Depari lainnya selain Erkata Bedil, yakni Piso Surit juga sangat pas ditampilkan mengiringi film ini. Membangkitkan rasa “karo” dalam cerita. Selain lagu tradisional, lagu lagu perjuangan nasional juga tidak ditampilkan, padahal ada moment yang sangat pas ketika adegan Letjen Djamin Ginting meninggal dan proses pemakamannya, lagu Gugur Bunga atau lagu kepahlawanan lainnya  bisa menyayat hati penonton, dapat membangkitkan nasionalisme. Saying sekali adegan ini berjalan biasa. Tanpa kesan.

Dibalik beberapa kekurangan, namun film 3 Nafas Likas ini sangat direkomendasikan untuk ditonton. Kemampuan akting para pemerannya, nilai moral yang terkandung dalam cerita dapat menjadi penarik. Likas seorang perempuan yang berani dan tangguh, yang bukan saja mendampingi suaminya memperjuangkan kemerdekaan, namun turut serta ambil bagian dalam usaha memeprjuangkan kemerdekaan tersebut. Likas sejak kecil telah menunjukkan bahwa perempuan tidak boleh hanya berdiam di rumah, harus menuntut ilmu dan maju. Hal ini sangat jarang dalam sistem budaya yang konservatif pada zaman dahulu. Perempuan, walaupun hanya sebagai pendamping suami juga harus tetap belajar, karena dibalik lelaki hebat, pastilah ada perempuan yang juga hebat.

Selamat menonton. Mari mendukung kemajuan film nasional.

Salam @EkoTamba

 

 

 

Categories: Film | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: