Jarum jatuh pun kedengaran…

Dosen itu Pak Alimin. Terinspirasi dari foto yg di unggah Septa Ginting (Junior HI 09 di UNRI) yakni foto Pak Alimin dosen termasyhur di Jurusan Hubungan Internasional UNRI, aku ingin sedikit bercerita dan bernostalgia akan kenangan perkuliahan dulu di Pekanbaru. Sedikit bercerita tentang perjuangan mengambil mata kuliah beliau dulu. Pak Alimin, dosen yg “sangat ditakuti” “disegani” atau apa lah itu oleh mahasiswa mahasiswa HI UNRI. Menyebut namanya saja sudah terbayang aura jika berada di kelasnya. Seperti penyihir penyihir dalam cerita Harry Potter yg berpikir dua kali menyebut nama Voldemort. Sering di istilahkan “You Know Who” Kau tahu siapa?. So, baiklah jika sekelompok mahasiswa HI sedang berbicara tentang berlimpahnya tugas dan jika ditanya tugas siapa, dengan #kode “You Know Who” maka akan segera paham untuk siapa tugas itu ditujukan. Hmmmmmm. Pak Alimin, anda begitu menjiwai dan merasuki hari hari kami dulu. Haha

Foto unggahan Septa

Pak Alimin, dosen yg smart, lulusan S1 HI UNRI, S2 Kajian Wilayah Amerika UI dan Doktor Ilmu Politik UI. Setiap mahasiswa HI UNRI akan mengakui kedigdayaan bapak yang satu ini. Ntah mengapa, namanya begitu menusuk dihidung ketika diperdengarkan. Beliau tidak mengajar banyak mata kuliah, dalam satu tahun cuman satu mata kuliah, MPS (Metode Penelitian Sosial). Berhubung beliau anggota KPU Propinsi Riau, jd lumayan sibuk. Jadi cuman ngajar MPS. Sepertinya mata kuliah ini tidak pernah lepas dari genggamannya. MPS, mata kuliah bagi mahasiswa semester 4. Biasalah ya, kita junior ini slalu mendengar cerita dan curhatan dari senior yg sudah pernah ngambil mata kuliah dengan beliau. Dari cerita anak 05 seperti Kak Meli, Kak Dewi, dan yang lainnya aku sudah bisa membayangkan betapa dahsyatnya bapak yg satu ini. Bahkan Kak Meli cerita, jarum jatuh pun bisa kedengaran di kelas. Sempat mikir juga sih dan gak sabar membuktikannya. Haha.

Tiba lah pertemuan pertama MPS. Kita anak HI 06 udah ngumpul di kelas. Sekitar 40an lah. Duduk manis menunggu si bapak. Waktu beliau datang, aura nya sudah terpancar. Kelas menjadi hening dan sedikit mencekam.Trus pengenalan kuliah dan topik. Beliau bilang; “ saya tahu, nanti tinggal sedikit yg ngambil mata kuliah ini. Saya sih gak masalah, mau satu orang juga pun tetap saya ajar. Jangan main main yg kuliah ini”. Kita semua terdiam. Hening. Trus beliau ngejelasin bagaimana cara menulis ilmiah, cara membuat paper dan karya tulis lainnya. “Jangan jadi pelacur ilmiah” itu yang beliau tekankan waktu itu. Kita diberi tugas paper pertama , mencari makna konsep konsep yg akan berhubungan dengan perkuliahan. Hoshhhhh, selesai juga pertemuan pertama. Gak kebayang lagi untuk yang selanjutnya. Kita semua pun sibuk mengerjakan tugas Mr A tersebut. Lab HI rame. Lab HI akan selalu rame jika ada tugas dari Pak Alimin. Mahasiswa yg gak pernah2 nya nginjakkan kaki di lab akan rajin berkunjung. Kak Junet pun akan semakin di repotkan. Hihi.

Tugas pun dikerjakan dengan pengetahuan seadanya. Kita masih bingung bagaimana cara penulisannya. Tiap orang punya cara yg berbeda beda. Ya sudah lah, kita ga tau cara benarnya. Hadapi aja besokk. Benar saja, yang ngambil matakuliah si bapak tinggal seuprit. Aku dan gerombolan orang batak lannya tetap setia. Kita sih mahasiswa yang tangguh. Terkenal koq di HI, gerombolan orang batak itu selalu jd yang terdepan. Haha. Yang penting bahu membahu saja nanti klo ada kesulitan. Aku masih ingat mahasiswa yg masih kuat bertahan untuk hadir di pertemuan kedua. Aku, Nopriana Tampubolon, Sarifah Girsang, Rumandang Yulia Sari, Nika Silalahi, Andri Siallagan, Kifron (untuk tman yg satu ini aku lupa di pertemuan ke 3 dst dia tetap ada atau tidak), Fitri Yuliani, Andrio, Vanny Vanessa, Virgian Petra, Riska Yuliani, dan 3 anak HI 05 Lissa, Rezi, Ade Martalena. Pungu ma sude 13 atau 14 org. Sekitar segitu lah. Kebayang kan, kelas yang biasanya disesaki 45-50 orang dihuni 13-14 org. Peluang keterpilihan untuk ditanya menjadi semakin besar. Posisi duduk menjadi sulit. Saat di kelas, gak berani menatap lantang ke depan. Pura pura menulis aja, walau sebenarnya ga ada yg ditulis. Huuhhhhhh, Pak Alimin, jantung ku dan jantung teman teman ku mungkin berhenti berdetak saat bapak mengajar. Saat dia masih dilorong mau masuk ke kelas aja kita sudah duduk manis, diam seribu bahasa.

Beliau gak heran kelas menjadi sepi. Beliau gak ambil pusing. Tiba lah tugas pertama dikumpul. Deg degan. Suerrrrr, sangat tegang. Ntah punya siapa yg paling atas, mungkin Vany atau Andri atau siapa lah itu. Bapak itu membaca, terus seakan akan darahnya naik mendidih. Raut mukanya tegang. Beliau memegang tugas kami dengan dua tangan, trus menghentak kan nya ke meja “Begini yang sudah diajarkan????” Begini menulis???. Kelas sangat mencekam. Tak terlukiskan lagi. Jarum jatuh pun kedengaran. Kita semua sudah sangat tegang. Jantung udah naik turun. “Jangan main main yang kuliah ini ya”. “Mau jadi apa kalian” “Gak perduli anak gubernur, anak bupati atau anak apa pun itu, sama saja”  “‎Kau!!! Udah berapa buku yang kau baca??, kalian lihat mahasiswa di UI sana, baca buku di bawah pohon, diskusi” “Berapa komputer di lab HI sana? Bagus nya? Klo ga bagus bakari aja semua”

Di perkuliahan Pak Alimin gak usah sok pintar deh, sok nanya nanya atau sok sok ngerti dan nyahut nyahut apa yg beliau bilang. Gak usah angguk angguk. Biasa aja. Gak usah berkomentar. Kalau ditanya baru jawab. Karena akan menjadi masalah nanti. “kau!, angguk angguk berarti udah ngerti kau, apa itu paradigma?”. Jangan harap bisa lepas setelah menjawab sekali. Si nopri kebagian jatah ditanya. Sampai sampai dia kayak kehabisan napas, ngos ngosan karena berulang kali ditanya beliau. Kalau menjawab, langsung to the point saja, jgn menjawab sesuatu yg abstrak, karena akan dipertanyakan lagi. Begitu lah Pak Alimin. Pak Alimin sangat idealis, waktu aku masuk di HI UNRI tahun 2006, beliau Ketua Jurusan. Mungkin karena terlalu idealis makanya kurang klop dengan yg lain. Di kelas beliau sering bertanya, “Siapa yg ngajar mata kuliah Masalah pembangunan Politik?” “Pak (…) pak, jawab kami”. Trus kata beliau, “tau apa dia ngajar itu?” “Ngerti dia”, kami pun terdiam. Dan beliau sering sekali menyindir perkuliahan S2 yg di Gobah. Kuliah apa itu??? Katanya. Kami pun cuman bisa diam. Berhubung karena alumni UI wajar sih beliau membandingkan perkuliahan di UNRI dan di UI. “Di UI sana, mahasiswa rajin mebaca buku dan diskusi di bawah pohon, dibangku taman”, kalau disini membangun yang tak jelas. Maunya langganan Jurnal internasional online lah” “Bakar aja komputer komputer disana klo gak bagus”. Kami pun hanya bisa diam.

Pengalaman ku dengan beliau. Hmmmmm. Kan waktu itu aku duduk di barisan kedua di sebelah kiri beliau. Di ruangan A4. Beliau menjelaskan dengan ilustrasi yang sedikit porno dan lucu. Kalian tau lah, awak tukang ngakak gak ketulungan, ketawa ketiwi hihiii. Trus beliau nunjuk aku, “Kau kau kau, ketawa aja kerja mu, sok pintar kau” “apa itu (…)”  “deggggg!!, langsung terdiam lah aku kan, trus ku jawab lah”.  Huuuuuuhh. Untung aja gak berlanjut *dalam hatiku syukurr, udah ngelus dada. Hahhahaha. Kalau dari cerita Kak Meli dan Kak Dewi, dulu dikelas mereka malah ada yg di kasari “Kau, dimana otak mu. Pulang dulu kau kerumah, isi dulu otak mu”. “Monyet lebih pintar menulis dari kalian” kata kata yang sungguh menyayat. Hahahahhahaa. Untung masa kami gak ada yg keq gt.

Tentang tugassss, huhhhhhh. Jangan ditanya lagi. Semester 4 lah hari hari terburuk dan tersibuk. Selain tugas beliau, Bu Nizmi juga rajin ngasih tugas dan quiz tiap minggu. Hari hari ku pun tersita tugas tugas. Main ke SKA pun sangat jarang. HPDS pun memburuk. Tugas Pak Alimin bukan main asoy nya. Nge riview satu buku yang tebal. Bahasa Inggriss cuy. Tiapp minggu. Dimulailah kerja kelompok dengan membagi bagi bahan yg tebal itu untuk ditranslate masing masing, trus kami kumpulkan dua hari menjelang tugas dikumpulkan. Kompak kali lah. Dan sekedar curhat, tiap ngerjakan tugas Pak Alimin malam hari, yang aku pikirkan “bisa gak nanti selesai ini ya” “berakhir nya nanti masa masa sulit ini?” Huhuhuhu. Selalu aku berpikir, apakah hari esok akan datang?? Yaaa pasti datang lah kan, ga mungkin lompat satu hari. Hehe. Dengan cengengnya aku pernah nangis di kamar karena banyak nya tugas seakan ga mampu, makkkkkk e,  seakan akan dunia mau kiamat, padahal ujung ujung nya selesai juga. Tugas ku selalu tepat waktu ngumpulnya. Dulu masih ngekost di Orange Jonny, Ozon lah. Dua kali gak tidur semalaman karena tugas. Pernah muntah waktu ngetik di laptop karena terlalu lama menghirup uap dari laptop. Sakittttt kali lah dulu. Muka kisut, berminyak, kering. Mata hitam, berkantung. Ohhhh tahee, Pak Alimin. Hmmmmmm. Tp lama lama biasa juga sih. Gak kerasa berakhirr juga masa masa sulit itu. Gak kerasa berakhir juga masa masa yg sempat aku ragu akan bisa kulalui. Huuuuhhhhh. Capekkkk sih. Tp puasss. Dari 4 paper yang dikembalikan, keempatnya dapat V+ aku. Sama pak alimin gak ada UAS, cuman ngumpulin proposal. Lah berhubung masih semester 4, belum terlalu ngerti. Keluarlah nilai C+. Gpp lah. Yang penting gak D. Nilai C MPS satu satunya nilai C yang bakalan kubawa sampai mati di trankrip nilai S1. Mengulang lagi? No way! Gak akan. Cukup sudah. Kalau kata Kak Dewi dengar cerita Pak Faisyal, dapat C aja udah makan makan. (Ya iyaaa lahh yaa, makan hati). Hahaha

Di ending ending perkuliahan, Pak Alimin udah mulai berguyon dengan joke joke nya. suasana mulai mencair walau kebekuan masih ada. Pak Alimin curhat tentang kisah hidupnya dan perjuangan perkuliahannya. Luar biasa. Kami yg 14 orang adalah mahasiswa yang tahan banting. Teman2 yg lain aja niatan mau ngambil ke jurusan lain. Padahal bagiku, ngapain lari dari kenyataan, ikuti saja setiap alur yg ada, nikmati prosesnya. Semua ada masanya. Karena ditentang jurusan, mereka ngambil MPS tahun berikutnya. Tantangannya jelas beda. Tahun berikutnya yg ngambil MPS anak 2007 dan 2006, kelas sudah rame. Udah sekitar 45-60 org. So gak terlalu mencekam lagi. Banyak sekali manfaat dari ngikutin kelas Pak Alimin. Luar biasa sekali. Siapa yang pernah ngambil kuliah sama beliau, akan selalu ingat cara cara menulis ilmiah. Buat paper jadi makanan sehari hari. Sumber rujukan, footnote dan daftar pustaka gak akan ketinggalan. Itu lah bedanya mahasiswa HI dan yg lainnya. Mahasiswa HI gak akan asing lagi dengan yg namanya menulis. Penulisan karya ilmiah seperti skripsi mahasiswa HI pasti beda dengan mahasiswa jurusan lain. Anak HI akan heran lihat skripsi jurusan lain yang gak memenuhi kaidah ilmiah. Google.com atau kapanlagi.com pun bisa tertera di daftar pustaka. Di HI, jangan harap ada yang keq gitu. Langsung dicibir Bu Nizmi. Ilmu itu jadi ilmu yang selalu kita pegang teguh, sampai saat ini. Sangat bermanfaat sekali. Kalau lag buat paper, pasti slalu ingat. Jangan jadi pelacur ilmiah.

Pak Alimin, semoga beliau diberi kesehatan berlimpah dan panjang umur. Salah satu dosen andalan HI yang membentuk mahasiswa HI menjadi pejuang tangguh dalam dunia akademis. Semua indah pada waktunya ternyata. Terima kasih Pak.

*setidaknya klo misalnya aku jadi dosen, mirip dikitlah seperti Pak Alimin. Setiap minggu tugas, paper, quiz, tanya satu satu, kalau gak tau “apa isi otak mu ini?????”
hahahaahhaah
Waspadalah waspadalah….. 

Categories: Goresan Pena | 8 Komentar

Navigasi pos

8 thoughts on “Jarum jatuh pun kedengaran…

  1. Mantaaappp Gan..!!##$%^$%&%^*
    Kurang 1 lagi ko…
    “Monyet Lebih Pintar MENULIS dibandingkan kalian..!!”
    Kata2 yang sungguh menyayat,,,argghhh….

    gOOD jOb dek..
    Bisa neh jd penulis Cerpen di ‘Aneka Yess!!’
    hahahahaha

    • Eko Sanjaya Tamba

      Hahha
      iyaaa kak. Ntar ku tambahkan kalimat pamungkas itu.

      jangan kan jd penulis cerpen di Aneka Yess, penulis roman percintaan di MX pun bisa.
      wkwkkwkw

  2. masih ada sihh bg..
    dia sering bilang ” saya hampir FRUSTASI” melihat dan mengajar kampus RIsAU ini…!!

  3. hahhaa…jadi teringat lagi masa-masa kuliah yang paling menyeramkan….tapi aku lebih beruntung dari kamu ko…aku dapat B….hahhahhaha

    • Eko Sanjaya Tamba

      Jelas beda dong. waktu kami ngambil lah menyeramkan. Giliran mu kan udah gak lg, kan udah 50an mahasiswa, so ga tegang lg.
      Kalau aku ngambil sma kalian mungkin bisa dapat A malah, kan sudah ikut matkul Seminar. Pasti gampang dong. Haha😀

  4. rina sinaga

    sayang banget yah yang gag pernah diajarin Pak Alimin🙂 #termasukguweh

  5. fajri

    Haaa kok kayak nya killer amat ya kk sama pak alimin ?
    dosen P.A ku Pak Alimin loh kk -__-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.