Kegagalan Pertanian

Kegagalan Pertanian Sebuah tulisan untuk mengomentari tentang apa yang dimuat dalam Harian Kompas hari ini terkait Kegagalan Pertanian. Bawang Diimpor; Pekerja Diekspor. Sungguh bukanlah suatu hal yang luar biasa ketika kita melihat kondisi pertanian Indonesia dewasa ini. Apa yang terjadi tentunya adalah suatu proses akumulasi panjang dari apa yang telah menempa bidang pertanian dalam beberapa dekade terakhir.Pada masa orde baru, Indonesia mengalami swasembada beras, Presiden Soeharto kala itu mendapatkan penghargaan dari FAO (Badan Pangan Dunia).

Desa Sembalun, Lombok Timur yang mejadi penghasil bawang putih mengalami perode keemasan berkat panen bawang putih yang berlimpah. Bawang putih merubah kehidupan masyarakat Desa Sembalun. Peningkatan kesejahteraan mayarakat dan perekonomian daerah. Bawang putih telah menjadi tumpuan harapan keluarga keluarga petani di Lombok Tengah. Apa yang terjadi sekarang merupakan suatu pemandangan yang jauh dari apa yang pernah terjadi dulu. Tanah yang kering manjadi terlantar akibat tidak diolah. Pada masa keemasan dulu, pemerintah berusaha menggenjot produksi bawang putih dengan intensifikasi pertanian dan penggunaan pupuk kimiawi. Upaya ini jelas saja membuat tanah semakin lama menjadi tidak produktif. Tanah menajdi kering dan tandus dan tidak layak lagi untuk ditanam. Akhirnya, petani mengalami dampak yang merugikan sampai saat ini.

Program intensifikasi pertanian yang digunakan pada masa orde baru adalah program yang hanya mementingkan keuntungan yang diperoleh tanpa bisa meramal apa dampak negatif yang akan datang dikemudian hari nanti. Penggunaan pupuk kimia sebagai upaya untuk meningkakan produktivitas lahan pertanian. Seperti halnya program penyeragaman benih padi dan peningkatan musim tanam dari yang biasanya dua kali dalam satu tahun menjadi tiga kali dalam satu tahun. Lahan pertanian seakan akan dipaksa untuk berproduksi. Padahal, dampak yang ditimbulkan akan semakin terasa. Penyeragaman benih padi yang ditanam oleh petani telah meruak dan mematikan benih benih padi varietas lokal. Pemerintah seakan tidak paham bahwa setiap benih memerlukan daerah yang sesuai dengan karakteristik nya. Oleh karena itu penyeragaman akan merugikan. Padi yang tumbuh di Jawa tidak akan cocok untuk ditanam di daerah Sumatera. Begitu juga dengan peningkatan masa panen. Petani petani lokal yang menggunakan bibit padi lokal memerlukan masa panen yang relatif lebih lama. Panen dua kali dalam setahun, bahkan ada petani yang tetap bertahan menanam padi sekali dalam setahun. Hal ini dilakukan untuk menjaga keseimbangan alam dan lingkungan. Lahan pertanian diibaratkan sebagai makhluk hidup yang juga punya keterbatasan. Lahan pertanian yang “dipaksa” untuk berproduksi tiga kali setahun lama kelamaan akan mengalami kejenuhan. Panen menjadi sedikit dan hasil yang didapatkan tidak kurang memuaskan. Hal ini dapat berbeda dengan hasil yang didapatkan petani yang mencoba bertahan mejaga harmonisasi alam dengan masa panen yang lama. Hasil yang didapat memuaskan bahkan melebihi dari apa yang diperoleh tiga kali masa panen. Sama halnya dengan penggunaan pupuk kimiawi yang berlebihan juga dapat mempengaruhi kesuburan tanah. Tanah semakin jenuh menyerap pupuk kimia untuk tiga kali masa tanam dalam satu tahun. Akibatnya, hasil yang diperoleh juga tidak makasimal.

Sudah saatnya kita merubah cara pandang tentang kegiatan pertanian. Kegiatan pertanian bukan hanya sebagai usaha industri menghasilkan pangan dengan “menggenjot” hasil panen. Pertanian bukan hanya sebagai lahan bisnis yang komersial. Pertanian juga menyangkut program pemenuhan akan pangan dan penyerapan tenaga kerja. Pertanian juga menyangkut budaya yang berkembang sejak turun temurun. Oleh karena itu harus tetap dijaga dan dilestarikan. Pertanian juga merupakan program berkelanjutan untuk anak cucu kita. Pertanian juga perduli dengan perubahan iklim dan pelestarian lingkungan. Oleh karena itu, pertanian harus diurus dan dilaksanakan sesuai dengan nilai nilai yang terkandung didalamnya.

Categories: Opini | Tags: , , , | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.