RELIGI DAN NEGARA

RELIGI DAN NEGARA

Tulisan ini didasarkan pada buku Robert. N. Bellah, Gramedia Pustaka Utama 1992 yang berjudul Religi Tokugawa, Akar Akar Budaya Jepang dengan topik Religi dan Negara. Religi memiliki hubungan yang erat dengan rasionalisasi pilitik. Ketiga religi besar Jepang yakni Bushidõ, aliran kokugawa, aliran mito dan beberapa kecenderungan dikalangan rakyat berhubungan dengan dunia politik pada masa awal sejarah Jepang.
Aliran aliran tersebut mulai muncul pada masa Jepang kuno dimana orang Yamato berusaha memperkuat hegemoni mereka atas wilayah Jepang tengah dan melakukan upaya poltik yang berhasil menciptakan motilogi versi mereka sendiri. Dari perkembangan aliran ini, jelas ada hubungan yang mengisyarakat tidak ada perbedaan yang signifikan antara wilayah religi dan negara. Karena kegiatan yang bersifat religius keagamaan dikaitkan dengan religius istana, yang dalam hal ini adalah pemerintahan.
Pada perkembangan aliran-aliran ini, terdapat pengaruh Cina yakni pengaruh langsung dari teori Konfusius terutama menyangkut pemerintahan. Pengaruh tersebut tidak hanya bersifat politis tetapi juga etis bahkan magis. Penggunaan kata kaisar telah dimulai pada zaman ini begitu juga pengakuan semua orang atas kekuasaan tertinggi kaisar. Selain pengaruh Konfusius juga terdapat pengaruh Budhisme menyangkut pertimbangan pertimbangan politik..Budhisme juga menyangkut perebutan kekuasaan dikalangan keluarga kerajaan dan adanya ritual serta perkembangan magis di istana.
Adapun dampak dari perkembangan tersebut yakni kesetiaan kepada kaisar yang dapat mengatasi penolakan terhadap kekuasaan tradisionalistik-primitif. Akan tetapi budhisme memiliki pengaruh yang negative dimana perkembangan ritual dan magi semakin memperlemah desakan pemusatan kekuasaan .
Sedangkan konfusius masih berkontribusi positif kearah perkembangan rasionalisasi politik pada abad itu. Pokok ajaran konfusius yang mengajarkan kesetiaan dan konsep hidup sederhana dipegang teguh pada masa itu teritama oleh penganut bushidõ. Kesetiaan yang dimulai dari keluarga dalam hal ini orang tua membuat nilai-nilai politik itu masuk ke dalam keluarga.
Aliran konfusius terutama sekali berkembang dikalangan prajurit dan samurai sehingga melahirkan bushidõ yakni, nilai-nilai moralitas kelas prajurit yang dalam perkembangannya juga dijadikan sebagai landasan moral nasional. Pandangan bushidõ yang dimulai dari memandang kematian sebagai suatu hal yang tidak menakutkan. Kematian dapat menghilangkan sererta mengakhiri ketamakan, indivudualitas dan sikap-sikap buruk. Mengalami kematian pada saat mengabdi pada pangeran dapat dianggap sebagai akhir yang layak bagi seorang samurai.
Selain itu, sebagai suatu landasan moral; bushidõ mengajarkan beberapa aspek penting dalam keehidupan yakni
• Kesetiaan , yangt juga berkaitan dengann ketaatan terhadap orangt tua dan keluarga . perintah untuk bersikap luruh dan memenuhi kewajiban, ditambah dengan ketaatan mutlak sering kali ditekankan.
• Hidup hemat dan sederhana, menahan diri dan ughari ( sikap hemat yakni kewajiban untuk mengurangi konsumsi individual sampai sekecil mungkin) serta sikap rajin dan pengabdian yang tinggi.
• Penghargaan yang sangat tinggi terhadap pencarian ilmu
Tujuan dari belajar adalah upaya dalam pengenbangaan diri dan menguasaai orang lain.
Adapun para tokoh yang menganut bushidõ dan mengembangkannya yakni Yoshida Shõin, Muro Kyusõ dan Yamaga Sokõ.
Pemikiran dari bushidõ ini bukan hanya berkembang dikalangan para samurai dan prajurit saja tetapi juga dikalangan masyarakat awam yakni para pedagang dan rakyat biasa. Semuanya menekankan kesetiaan, hemat, rajin dan kerja keras.
Selain itu terdapat slogan sonnõ ( pemujaan terhadap kaisar ) dan kokutai ( badan nasional ) , kedua ide ataupun slogan ini dikembangkan oleh penganut Aliaran Kokugaku dan Aliran Mito.
Aliran kokugaku didirikan oleh Keichũ ( 1640-1701) dan Kada Azumamaro ( 1668-1736). Sejak awal aliran ni bersifat politis dan religius. Adapun sikap khas dari aliran ini adalah penilakan terhadap Cina yang dimana terjadi perebutan kekuasaan dan pergantian dinasti pemerintahan dengan adanya pemberontakan dan pembantaiaan untuk menggulinglkan kekuasaan kaisar. Menurut aliran ini pengaruh cina lah yang menyebabkan kemerosotan dan kebejatan di Jepang. Kekaisaran di Jepang adalah turun temurun dan tidak terpotong dan hubunganusian ad antara bkaisar daan rakyat adalah hubungan yang sejati. Aliran ini menolak Budhisme dan Konfusianisme. Penjelasan penjelasan dari kaum budha, tao dan konfusian adalah bertentangan dan tidak bias diterima.
Aliaran kokugaku dapat dianggap sebagai ‘ratu adil’ yang berusaha mewujudkan pemulihan kekuasaan kaisar sebagai penguasa nyata dan pembersihan dari segala pengaruh yang merusak. Jika ini terlaksana maka akan datang masa kerukunan dan keserasian antara rakyat dan kaisar dan terwujudnya kedamaian dan moralitas. Selain itu implikasi politis dari doktrin Kokugaku adalah terbentuknya suatu monarki yang kuat dan terpusat yang menuntun kesetiaan dan kepatuhan rakyat kepada kaisar serta menghancurkan keshogunan dan kekuatan lain yang berada diantara kaisar dan rakyat. Secara politis dampak ajaran mereka adalah rasionalisasi kekuasaan secara besar-besaran.
Sedangkan aliran Mito, didirikan oleh Tokugawa mitsukuni ( 1628-1700). Aliran ini memang tidak menolak segala hal yang berasal dari Cina tetapi selalu mengkritik Cina yang dinastinya berubah-ubah. Mereka mengkritik Mencius tetapi mengajarkan secara terbuka moralitas Cina. Menurut ajaran ini, hubungan antara Tuhan, kaisar, pangeran dan ayah cenderung sejajar. Seluruh bangsa adalah satu keluarga. Aspek ini dinamakan kokutai, yang dimana prinsip politik, kekeluargaan dan religius menyatu dan tidak terpisahkan. Kokutai, juga dipahami dalam kerangka corak kedua hubungan antara manusia dan Tuhan yang terdapat di Jepang. Yoshida Shõin, juga bnyak dipengaruhi oleh aliran mito. Dia memberikan motivasi kearah restorasi dan pembentukan negara yang kuat dan akhirnya kearah imprealisme. Kecenderungan perubahan kearah restorasi dan imperialisme menunjukkan kekuatan yang berlebihan sehingga prasyarat fungsional bidang lain dalam masyarakat selain negara dilanggar. Hal ini mengakibatka munculnya militerisme dan totaliterianisme.
Berbagai aliran dan pemikiran yang berkembang di Jepang sangat nyata pengaruhnya. Hubungan antara religi dan agama sanga erat kaitannya. Penghormatan dan kepatuhan terhadap kaisar juga termasuk penghormatan kepada Tuhan. Ideologi-ideologi yang muncul adalah penggabunagn pandangan religius dan pandangan politik.
Aliran aliran diatas juga berkembang hingga masa Jepang modern dan sampai saat ini. Masyarakat Jepang saat ini sangat menghormati kaisar dan keluarga kerajaan walaupun kaisar saat ini tidak lagi memiliki kekuasaan politik yang berarti. Aliran aliran ini juga mempengaruhi kehidupan masyarakat Jepang sampai saat ini. Semangat Bushidõ yang mengajarkan kerja keras, kesetiaan dan hidup hemat tercermin pada kehidupan masyarakat Jepang sekarang. Dapat kita lihat kemajuan negara Jepang dalam segala bidang tidak lepas dari masyarakatnya yang menjunjung tinggi kerja keras, hidup hemat, sangat menghargai waktu dan semangat juang yang tinggi. Kemajuan yang dicapai adalah hasil pengorbanan daari usaha dan kerja keras. Pengaruh aliran Mito yakni slogan sonnõ dan kokutai dapat kita lihat pada masa periode perang dunia pertama dan perang dunia kedua atau dimulainya restorasi meiji. Aliran Mito yang mendukung restorasi dan perubahan negara juga menimbulkan adanya imperialisme. Jepang setelah restorasi adalah negara yang kuat dan ingin menguasai negara lain. Imperialisme pun dilakukan terhadap negara negara di Asia Timur hingga ke Indonesia. Jepang ingin menguasai Asia dan ingin menjadi pemimpin Asia.

Categories: Catatan Kuliah | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.