Globalization In Southeast Asia

 

 

 

Review ini ditulis berdasarkan jurnal Annals of the American Academy of Political and Social Science, Vol. of Globalization (Jul, 2000), halaman 49-64 yang berjudul Globalization in Southeast Asia tulisan Peter A. Coclanis dan Tilak Doshi. Dalam  tulisan ini akan dijelaskanmengenai arti dari globalisasi berdasarkan berbagai pendekatan dan ahli, defenisi mengenai kawasan Asia Tenggara dan proses globalisasi di Asia Tenggara. Selain itu, dalam tulisan ini juga akan dijelaskan mengenai kinerja ekonomi dikawasan Asia Tenggara dalam beberapa dekade terakhir dan pengaruh dari globalisasi terhadap pertumbuhan ekonomi yang dicapai negara kawasan Asia Tenggara dan akibat pengaruh globalisasi  terhadap krisis yang terjadi di kawasan tersebut pada 1997-1998.

Globalisasi merupakan suatu gejala yang melanda hampir seluruh negara didunia. Banyak para ahli mencoba untuk mendefinisikan globalisasi dan juga mengkaji mengenai globalisasi termasuk gejala-gejala globalisasi dan akibat atau pengaruh globalisasi tersebut. Menurut Fredric Jameson (1998) globalisasi adalah satu total keseluruhan yang memiliki hubungan intensif antara negara-negara bagian-sebagian besarnya, tetapi juga daerah dan kelompok, yang melanjutkan untuk mengartikulasikan diri mereka terhadap model  ‘entitas nasional’. Sedangkan ahli yang lain seperti Paul Krugman, sering melihat kepada hubungan antara tingkat pertumbuhan di produksi dunia sebagai sebuah wakil ukuran dari globalisasi  itu, jika akibatnya  secara konsisten lebih tinggi dari sebelumnya, proses itu disebut terjadinya globalisasi (Krugman 1998,73).

Selain itu, organisasi untuk pembangunan dan kooperasi ekonomi mendefinisikan globalisasi sebagai “pengedaran geografis dari industri dan pelayanan jasa (seperti, penelitian dan perencanaan, pemasukan tenaga kerja, produksi dan distribusi) dan batasan jaringan dari perusahaan “ (Bannock, Baxter, dan Davis 1998, 176).  Ahli teori sosial Manuel Castells (1994) menekankan interdenpendensi, skala, lingkup, dan stimulasi, yang mendefinisikan ekonomi global sebagai “satu ekonomi dimana bekerja sebagai sebuah unit dalam waktu nyata di atas perplanetan.” Thomas Friedman (1999), juga, menekan nilai kualitatif: globalisasi masuk ke dalam keberadaan ketika “semua orang” merasakan tekanan, batasan, dan peluang mengikuti peningkatan relatif dalam pentingnya dari perdagangan dunia, dan “demokratisasi” dari teknologi, keuangan, dan informasi yang sama-sama berhubungan.

Dari berbagai pandangan mengenai globalisasi tersebut, tidak dapat disangkal bahwa globalisasi beserta pengaruhnya telah menjadi isu baru diantara negara-negara didunia. Globalisasi melanda hampir semua negara didunia dalam berbagai kawasan, tidak terkecuali kawasan Asia Tenggara. Istilah  kawasan Asia Tenggara pada awalnya hanyalah sebuah kawasan yang kurang dikenal dalam pergaulan internasional jika dibandingkan kawasan lain yang peradabannya jauh lebih maju. Istilah kawasan Asia Tenggara mulai dikenal setelah selama Perang Dunia ke dua yang digunakan sebagai referensi Jepang dalam menunjukkan istilah kawasan yang berada dibagian selatan Cina.

Kondisi Asia Tenggara jika ditinjau dari aspek ekonomis, politik, dan sosial belum menjadi suatu kawasan yang mengalami kemajuan dalam berbagai bidang. Dahulunya, diceritakan bahwa ekonomi orang asia Tenggara dilukiskan sebagai tradisional, mundur, dan tidak efisien sampai satu rangkaian perubahan dalam transportasi, komunikasi dan teknologi produksi mulai mempengaruhi mereka pada 1970-an serta 1980-an. Sarjana revisionis telah mendemonstrasikan bahwa baru setelah 1850, ketika Inggris dan Prancis mulai memperkuat serta memformalkan imperium mereka terhadap daratan Asia Tenggara yang menjadi satu ajang utama pada layar ekonomi global. Namun kawasan Asia Tenggara adalah daerah yang kaya akan sumber daya alam yang  banyak menghasilkan komoditas penting dalam perdagangan internasional pada saat itu seperti, beras, gula, katun, kopi, timah, kayu jati dan karet. Penduduk yang banyak juga menjadi faktor pendorong sebagai tenaga kerja yang memadai. Oleh karena itu kawasan Asia Tenggara menjadi jajahan negara-negara besar seperti Belanda, Inggris, Prancis, Spanyol dan Jepang yang menjalankkan praktek kolonialisme didaerah tersebut.

Setelah berakhirnya perang dunia kedua, negara-negara Asia Tenggara kecuali Thailand yang dijajah bangsa lain mulai bangkit baik secara politik maupun ekonomi. Negara negara dikawasan Asia Tenggara berusaha untuk mereklamasi keunggulan yang dahulu pernah dimilikinya dalam perekonomian dunia. Asia Tenggara mempunyai satu sejarah ekonomi setelah kejatuhan komunisme dan kemenangan dari neoliberalisme, fakta dimana beberapa bagian daerah yang menjadi pusat ekonomi dunia, dan fakta bahwa pentingnya daerah global yang sejak saat itu menjadi sebuah suatu perhatian.

Kawasan Asia Tenggara memiliki wilayah geografis yang cukup luas dan jumlah populasi yang banyak yakni sekitar setengah milyar jiwa. Setalah terjadinya perang dunia kedua, masing-masing negara dikawasan tersebut bergerak menuju kemajuan dalam bidang politik dan ekonomi. Indonesia, Thailand, Malaysia, Singapura, Filipina dan Vietnam memiliki kekuatan ekonomi yang lebih besar jika dibandingkan negara lain dikawasan tersebut.

Setelah berakhirnya perang, Amerika Serikat muncul sebagai negara hegemoni yang mendominasi dunia internasional. Amerika Serikat merasa bertanggung jawab memulihkan negara-negara dikawasan Asia dan Eropa setalah perang berlangsung. Amerika merasa memiliki tangggung jawab yang besar dalam mempromosikan stabilitas ekonomi melalui pembentukaan Bank Dunia dan IMF. Komitmen Amerika Serikat di Asia setelah terjadinya perang merupakan strategi yang penting pada masa perang dingin. Strategi Amerika di Asia dipandang sebagai suatu keberhasilan dalam membendung pengaruh komunis yang pada akhirnya meningkatkan perekonomian.

Pertumbuhan ekonomi dibangun dikawasan Asia dalaam konteks sistem ekonomi yang terbuka, perdagangan internasional yang didasrkan kerangka kerja sama GATT dan penawaran tata ekonomi dunia baru. Sejak saat itu, negara dikawasan Asia mengalami pertumbuhan ekonomi yang cepat. Di Asia Timur dan Asia Tenggara mengalami pertumbuhan ekonomi yang cepat secara rata-rata dari pada negara lain dalam wilayah yang lain didunia dalam tiga dekade berakhir. Dimulai oleh Jepang, gelombang pertumbuhan ekonomi yang cepat mengalir kepada negara-negara industri baru atau empat macan Asia yakni Korea, Hongkong, Taiwan dan Singapura dan juga negara lain di Asia Tenggara. Pertumbuhan ekonomi yang cepat juga dialami negara di Asia Tenggara sebagai negara industri baru berikutnya seperti Indonesia, Malaysia dan Thailand. Begitu juga  Filipina dan Vietnam juga menyusul kelompok tersebut , setelah keduanya mengadakan reformasi ekonomi pada akhir 1980 dan awal 1990.

Pendapatan perkapita negara-negara di Asia Tenggara setiap tahun hingga tahun 1995 sangat mengherankan. Berbeda sekali dengan nengara dikawasan lain seperti Asia Selatan dan Amerika Latin. Dengan pengecualian Filipina, kawasan Asia Tenggara mencatat pertumbuhan ekonomi yang mengagumkan  dan luar biasa, sebesar 5-7 persen setiap tahunnya pada 1980-1990an. Angka pertumbuhan ekonomi kembali mengagumkan dengan 7-8 persen setiap tahunnya selama 1990-1996 dan lagi dengan pengecualian Filipina. Filipina mulai mengalami kebangkitan ekonomi pada 1994-1997 dengan pertumbuhan ekonomi rata-rata 5 persen setiap tahunnya dibawah pemerintahan Presiden Ramos yang melaksanakan reformasi ekonomi seperti deregulasi, privatisasi dan liberalisasi perdagangan dan adanya investasi asing.

Selain Filipina, Vietnam juga mengalami keterlambatan dalam pertumbuhan ekonomi jika dibandingkan negara lainnya dikawasan Asia Tenggara. Hal ini dipengaruhi faktor internal dan eksternal. Faktor dari luar yakni invasi atau pendudukan terhadap Kamboja dan penjajaran sistem ekonomi dan politik Vietnam yang mengadopsi Uni Soviet mengakibatkan hal tersebut. Sedangkan faktor dari dalam yakni, kekakuan sistem Marxis-Leninnisme yang diadopsi Vietnam dan kontrol pemerintah yang terlalu dominan dalam kegiatan perekonomian.

Negara dikawasan Asia Tenggara memiliki strategi yang berbeda dalam memajukan pertumbuhan ekonominya, namun terdapat satu persamaan yakni keterbukaan sistem ekonomi yang dipakai negera-negara tersebut, dimana ekonomi mereka diukur dengan perdagangan barang ekspor. Keterbukaan sistem ekonomi ditandai dengan pertumbuhan ekspor yang cepat, secara signifikan melebihi rata-rata global, dalam dua dekade terakhir. Model pembangunan ekonomi yang diterapkan di Asia yang berorientasi perdagangan berbeda sekali dengan sistem ekonomi yang tertutup yang diterapkan dikawasan Amerika Latin.

Perdagangan yang berorientasi ekspor menjadi pendorong majunya perekonomian. Ekspor mesin menjadi bagian yang penting dari keseluruhan jumlah ekspor, dimana kawasan Asia Tenggara mengalami perkembangan dalam industri permesinan dan perakitan mesin-mesin yang dilakukan oleh perusahaan multinasional. Globalisasi yang ditandai dengan terbukanya sistem perekonomian dan perdagangan yang semakin maju menghasilkan integrasi pasar modal secara global. Arus perdagangan dan sistem ekonomi yang terbuka mengundang arus modal atau investasi asing masuk kedalam kawasaan Asia Tenggara. Thailand dan Malaysia menjadi negara yang paling banyak menerima investasi asing. Globalisasi di Asia Tenggara dalam dimensi ekonomi, masih tetap tegas dan intens. Dengan pengecualian Myanmar, Kamboja dan Laos, strategi paradigma untuk pasar ekonomi Asia Tenggara  adalah pertumbuhan berorientasi ekspor, integrasi yang mendalam terhadap ekonomi global dalam rangka menarik minat investasi asing. Srategi ini berbeda dengan strategi yang dijalankan negara di Asia Selatan dan Amerika Latin dengan program model pembangunan yang mendukung kepemilikan pemerintah atas industri dan sistem ekonomi komando bersama dengan substitusi impor dibelakang hambatan dan proteksionisme.

Pada tahun 1997, dimana pada saat negara kawasan Asia Tenggara sedang menikmati kesejahteraan akibat pertumbuhan ekonomi yang tinggi, krisis finansial datang menghantam kawasan tersebut. Krisis finansial yang pada awalnya bemula dari Thailand yang ditandai dengan jatuhnya nilai tukar bath semakin menyebar dengan cepat kenegara lain dikawasan tersebut. Pada awal 1998, mata uang rupiah turun lebih dari 80 persen terhaadap dollar, sementara itu mata uang Thailand, Malaysia dan Filipina, jatuh 30-50 persen. Pada saat krisis di Asia pada tahun 1996 dimana peringatan atau tanda-tanda telah jelas kelihatan pada sektor finansial dan properti Thailand. Fenomena ini membuat negara di Asia Tenggara meminta bantuan finansial dari lembaga keuangan didunia yakni IMF. Beberapa analisi seperti Paul Krugman dan Alwyen Young mengajukan pertanyaan tentang keajaiban ekonomi di Asia Tenggara terutama tentang tingkat keajaiban yang didasarkan atas pergerakan modal dan tenaga kerja bukan  peningkatan faktor produksi.

Fenomena krisis finansial ini banyak ditanggapi melalui tulisan-tulisan mengenai finansial di Asia. Dari perspektif globalisasi di Asia Tenggara terdapat beberapa ciri utama yang berkaitan dengan peristiwa ini. Integrasi arus modal secara global membuat dana dapat dialokasikan kepada negara-negara yang membutuhkan untuk digunakan sebagai modal dan kredit yang siap pakai. Dalam tulisan Max Corden, pertumbuhan ekonomi yang meningkat di Asia Tenggara digambarkan sebagai babak eforia investasi dan ledakan peminjaman dana. Adanya peningkatan aliran modal yang diikuti dengan perluasan kredit yang cepat dan kemudahan penawaran dana membuat perusahaan melakukan peminjaman secara besar-besaran.

Krisis finansial yang tejadi di Asia Tenggara disebabkan oleh pengaruh yang sangat besar dari sektor swasta, defisit mata uang yang disebabkan pertumbuhan ekspor yang rendah membuat mata uang negara-negara Asia Tenggara melemah terhadap dollar. Ketidakmampuan perusahaan swasta dalam membayar utang turut memperlemah sektor finansial. Selain itu, lemahnya regulasi yang diterapkan pemerintah, hubungan yang tertutup dan korupsi pemerintah dan institusi keuangan dan perusahaan-perusahaan peminjam membuat krisis menjadi lebih buruk.

Intervensi yang tidak efektif dari bank sentral Thailand membuat bath menjadi mengambang dan situasi menjadi lebih buruk. Para investor menarik kembali modalnya, bank terlikuidasi dan perekonomian menjadi menurun. Fenomena ini menyebar ke Indonesia hingga ke Korea Selatan. Akibat dari krisis finansial di Asia Tenggara, Presiden Soeharto yang berkuasa selama 32 tahun di Indonesia, didemo dan diturunkan oleh rakyat Indonesia karena tidak mampu mengatasi krisis. Sementara itu, Malaysia dan Filipina yang memiliki hutang lebih sedikit jika dibandingkan dengan negara tetangganya tidak begitu terpengaruh, meskipun negara tersebut mengalami kegagalan dalam nilai tukar mata uangnya.

Integrasi ekonomi global, deregulasi ekonomi domestik, dan kemajuan teknologi yang cepat terutama teknologi komunikasi dan informasi merupakan tiga pilar utama dalam globalisasi modern. Tiga pilar ini telah terwujud dalam sejarah ekonomi Asia Tenggara seteleh terjadinya perang. Kemajuan ini membawa integrasi yang mendalam antara negara Asia Tenggara terhadap perekonomian global. Revolusi informasi dan teknologi komunikasi dikombinasikan dengan pertumbuhan yang fenomenal dalam pasar modal global sejak pertengahan 1990an, dengan amat besar berpengaruh secara negatif dalam krisis finansial sekarang ini dan akan berlanjut berdampak ke ekonomi Asia Tenggara.

Kesuksesan ekonomi yang terjadi di Asia Tenggara didasarkan atas kesepakatan Washington ( Washington Consensus ) yang ditandai dengan cirri: banyaknya perdagangan keluar, menghindari inflasi dan stabilitas pertukaran mata uang dan mempromosikan persaingan serta membiarkan sektor swasta maju pesat. Namun, fenomena globalisasi inilah yang membuat negara kawasan Asia Tenggara mengalami krisis finansial akibat  keterbukaan dari sistem ekonomi dan lemahnya peran pemerintah negara dikawasan Asia Tenggara, yang mana pada kenyataannya negara-negara dikawasan Asia Tenggara adalah negara baru merdeka yang politik, hukum, sosial dan ekonominya masih belum stabil.

Globalisasi membawa dampak yang buruk dalam krisis finansial Asia dan merupakan tantangan yang besar bagi pemerintah negara kawasan Asia Tenggara dan sektor swasta. Dalam mobilitas modal dunia, kurangnya kemampuan pemerintah dalam menarik pajak dan mengatur regulasi industri menambah terjadinya krisis finansial. Adanya krisis finansial tahun 1997 yang terjadi di Asia Tenggara, harus dijadikan pelajaran bagi pemerintah negara dikawasan tersebut untuk lebih baik dalam membuat kebijakan dan keputusan terhadap investasi modal dari pasar modal global kekawasan Asia Tenggara. Pemerintah juga harus berperan mengatur regulasi dan menegakkan aturan yang jelas terhadap sektor perusahaan swasta terutama mengenai aturan peminjaman modal oleh sektor swasta sehingga kemungkinan terjadinya krisis dapat dihindarkan.

Categories: Catatan Kuliah | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.