Perbandingan Rezim Pemerintahan Sipil dan Militer di Argentina

PERBANDINGAN ANTARA REJIM PEMERINTAHAN SIPIL DAN MILITER DI ARGENTINA

Tulisan ini akajn menjelaskan mengenai perbandinngan antara sistem pemerintahan militer dan sipil di argentina.

TIPE PEMERINTAHAN MILITER
Pemerintahan militer adalah pemerintahan yang dikepalai oleh orang atau kelompok orang militer yang dibentuk melalui suatu pengambil-alihan kekuasaan secara ekstra-konstitusionil oleh angkatan bersenjata. Argentina mengalami sistem pemerintahan militer dari tahun 1955-1957, dibawah pemerintahan junta militer setelah Presiden Juan Domingo Peron di Kudeta militer, dan dari tahun 1966-1967 ketika Juan Carlos Ongania mengepalai suatu rezim militer yang revolusioner. Berikut table mengenai pemerintahan yang berkuasa di Argentina

Republik Argentina (República Argentina)

31 Mei 1852 – 5 Maret 1854 Jenderal Justo José de Urquiza, Ketua Umum sementara
5 Maret 1854- 5 Maret 1860 Jenderal Justo José de Urquiza, Presiden
Februari/5 Maret 1860 – 5 November 1861 Santiago Derqui, Presiden
5 November 1861 – 12 Desember 1861 Juan Esteban Pedernera, Presiden sementara
12 April/September 1862 – Oktober 1862 Jenderal Bartolomé Mitre, Presiden sementara
12 April 1862 – 12 Oktober 1868 Jenderal Bartolomé Mitre Martínez, Presiden
12 Oktober 1868 – 12 Oktober 1874 Domingo Faustino Sarmiento, Presiden
12 Oktober 1874 – 12 Oktober 1880 Nicolás Remigio Aurelio Avellaneda, Presiden
12 Oktober 1880 – 12 Oktober 1886 Jenderal Alejo Julio Argentino Roca, Presiden
12 Oktober 1886 – 6 Agustus 1890 Miguel Juárez Celman, Presiden
6 Agustus 1890 – 12 Oktober 1892 Carlos Enrique José Pellegrini Bevans, Presiden
12 Oktober 1892 – 23 Januari 1895 Luis Sáenz Peña, Presiden
23 Januari 1895 – 12 Oktober 1898 Dr José Evaristo de Uriburu, Presiden
12 Oktober 1898 – 12 Oktober1904 Jenderal Alejo Julio Argentino Roca, Presiden
12 Oktober 1904 – 12 Maret 1906 Manuel A. Quintana, Presiden
12 Maret 1906 – 12 Oktober 1910 José Figueroa Alcorta, Presiden
12 Oktober 1910 – 9 Agustus 1914 Roque Sáenz Peña, Presiden
April 1914 – 9 Agustus 1914 Dr Victorino de la Plaza, Presiden sementara
9 Agustus 1914- Oktober 1916 Dr Victorino de la Plaza, Presiden
12 Oktober 1916 – Oktober 1922 Dr Juan Hipólito Yrigoyen
12 Oktober 1922 – Oktober 1928 Dr Máximo Marcelo Torcuato de Alvear, Presiden
12 Oktober 1928- 6 September 1930 Dr Juan Hipólito Yrigoyen
6 September 1930 – 20 Februari 1932 Jenderal José Félix Benito Uriburu, Presiden
20 Februari 1932 – Februari 1938 Jenderal Agustín Pedro Justo, Presiden
20 Februari 1938 – Juni 1942 Dr Jaime Gerardo Roberto Marcelino María Ortiz, Presiden
12 Agustus 1940 – 27 Juni 1942 Dr Ramón S. Castillo Barrionuevo, Presiden sementara
27 Juni 1942 – 4 Juni 1943 Dr Ramón S. Castillo Barrionuevo, Presiden
5 Juni 1942 – 7 Juni 1943 Jenderal Arturo Rawson Corvalán, Presiden Pemerintah Sementara
7 Juni 1943 – 9 Maret 1944 Pedro Pablo Ramírez, Presiden Pemerintah Sementara
9 Maret 1944 – 4 Juni 1946 Edelmiro Julián Farrell, Presiden
4 Juni 1946 – 21 September 1955 Kolonel Juan Domingo Perón, Presiden
21 September 1955 – 23 September 1955 Junta Militer:-
José Domingo Molina Gómez, Ketua Umum Junta Militer
23 September 1955 – 13 November 1955 Jenderal Eduardo A. Lonardi, Presiden
13 November 1955 – April 1958 Jenderal Pedro Eugenio Aramburu, Presiden sementara
1 Maret 1958 – 29 Maret 1962 Dr Arturo Frondizi, Presiden
29 Maret 1962 – Oktober 1963 Dr José María Guido, Presiden sementara
12 Oktober 1963 – 28 Juni 1966 Dr Arturo Umberto Illia, Presiden
28 Juni 1966 – 29 Juni 1966 Junta Revolusioner
Pascual Ángel Pistarini
Benigno Ignacio Marcelino Varela Barnadou
Adolfo Teodoro Álvarez Melendi
29 Juni 1966 – 8 Juni 1970 Jenderal Juan Carlos Onganía, Presiden
8 Juni 1970 – 18 Juni 1970 Junta Militer:-
Pedro Alberto José Gnavi, Ketua Umum Komandan Junta
18 Juni 1970 – 22 Maret 1971 Brigadir-Jenderal Roberto Marcelo Levingston, Presiden
22 Maret 1971 – 25 Maret 1971 Junta Militer:-
Jenderal Alejandro Agustin Lanusse, Ketua Umum Komandan Junta
26 Maret 1971 – Mei 1973 Jenderal Alejandro Agustin Lanusse, Presiden
25 Mei 1973 – 13 Juli 1973 Dr Héctor José Cámpora, Presiden
14 Juli 1973 – 12 Oktober 1973 Dr Raúl Alberto Lastiri, Presiden sementara
12 Oktober 1973 – 1 Juli 1974 Jenderal Juan Domingo Perón, Presiden
29 Juni 1974 – 1 Juli 1974 Señora Isabel Maria Estela Martinez de Perón, Presiden sementara
1 Juli 1974 – 13 September 1975 Señora Isabel Maria Estela Martinez de Perón, Presiden
13 September 1975 – 16 Oktober 1975 Italo Argentino Luder, Presiden sementara
16 Oktober 1975 – 24 Maret 1976 Señora Isabel Maria Estela Martinez de Perón, Presiden
24 Maret 1976 – 29 Maret 1976 Junta Militer
Jenderal Jorge Rafael Videla
Emilio Eduardo Massera
Orlando Ramón Agosti
29 Maret 1976 – 29 Maret 1981 Jenderal Jorge Rafael Videla, Presiden
29 Maret 1981 – 11 Desember1981 Roberto Eduardo Viola, Presiden
11 Desember 1981 – 22 Desember 1981 Carlos Alberto Lacoste, Presiden
22 Desember 1981 – 18 Juni 1982 Leopoldo Fortunato Galtieri, Presiden
18 Juni 1982 – 1 Juli 1982 Alfredo Oscar Saint Jean, Presiden sementara
1 Juli 1982 – 10 Desember 1983 Reynaldo Benito Antonio Bignone, Presiden
10 Desember 1983 – 8 Juli 1989 Raúl Ricardo Alfonsín, Presiden
8 Juli 1989 – 10 Desember 1999 Carlos Saúl Menem, Presiden

Presiden Fernando de la Rúa yang terpilih kemudian mundur akibat krisis ekonomi Argentina pada akhir tahun 2000 dan awal tahun 2001 memungkinkan penggantinya menjabat sebagai presiden sementara hingga terselenggaranya pemilu presiden 2003.
8 Juli 1995 – 10 Desember 1999 Carlos Saúl Menem, Presiden PJ periode kedua
10 Desember 1999 – 21 Desember 2001 Fernando de la Rúa, Presiden UCR/AL mengundurkan diri
21 Desember 2001 – 23 Desember 2001 Federico RamónPuerta, Presiden Sementara PJ Dari De la Rú Sementara
23 Desember 2001 – 1 Januari 2002 Adolfo Rodríguez Saá, Presiden Sementara PJ Sementara, terpilih oleh Dewan Konggres, mengundurkan diri
1 Januari 2000 – 2 Januari 2002 Eduardo Oscar Camaño, Presiden Sementara PJ Dari Rodríguez Saá, Sementara
2 Januari 2002 – 25 Mei 2003 Eduardo Alberto Duhalde, Presiden Sementara PJ Sementara, terpilih oleh Dewan Kongres, mengundurkan diri
25 Mei 2003 – 10 Desember 2007 Néstor Carlos Kirchner, Presiden PJ
10 Desember2007 – Sekarang Cristina Elisabet Fernández de Kirchner, Presiden

Dari table diatas dapat kita lihat bahwa militer berkuasa sejak lamaa di Argentina, pada tahun 1970-1973 Militer juga berkuasa di Argentina, pada tahun 1976 tepatnya pada 24 Maret 1976 Presiden Isabel Peron dikudeta oleh piihak militer. Militer mengakhiri kekuasaannya di Argentian sejak tahun 1983, pada tahun 1983 terjadi reformasi di Argentina.
Sejak lama, pemerintahan militer di Argentina yang dibentuk melalui kudeta berdarah dan tidak berdarah dari presiden yang terpilih secara demokratis di Argentina beruisaha saling menggeser kedudukan. Tidak ada kekuasaan presiden yang demokratis berusia lama. Tidak satupun presiden yang berhasil mengakhiri masa tugasnya tepat padawaktunya., apalagi sampai bisa menyerahkan jabatan itu kepada penggantinya yang terpilih. Kedua tipe pemerintahan mempunyai tingkat kesuksesan yang hampir sama walaupun tidak dapat dielakkan bahwa tipe rejim militer lebih represif. Oleh karena itu, pemerintahan militer tidak lebih efisien dari pemerintahan sipil.

Dari pemerintahan militer yang berkuasa dari tahun 1955-1957 dan 1966-1967 dapat kita lihat mengenai prestasi ekonomi dan prestasi politik dari pemerintahan militer di Argentina, yakni
1. kenaikan tingkat pendapatan nasional (GDP) perkapita naik 0,2% pertahun
2. Kenaikan produksi barang barang pabrikrata-rata pertahun 2,8%
3. Kenaikan produksi pertanian rata-rata pertahun 2,2%
4. Kenaikan biaya hidup rata-rata pertahun 22,4%
5. Jumlah Impor-Ekspor total per 1000 penduduk, dalam jutaan dollar AS 0,11%
6. Surplus ekspor rata-rata pertahun -1,0%
7. Terjadinya kericuhan politik 0,9%
8. Jumlah dikeluarkannya sanksi pemerintah 87,0 %
9. Prosentase anggaran Belanja untuk kesejahteraan sosial 17,2%
10. Prosentase Anggaran Belanja untuk Pertahanan 19,0%
Masa-masa pemerintahan militer di Argentina pada tahun 1976 hingga pada tahun 1983 adalah masa suram dalam kehidupan rakyat Argentina. Pada masa ini terjadi “perang kotor” yang juga disebut “desaparecides” dalam bahasa spanyol, yang berarti korban penghilangan paksa. Pada masa ini ribuan bahkan puluhan ribu masyarakat Argentina menjadi korban penghilangan paksa oleh pihak militer saat itu
Setelah kejatuhan rezim militer, CONADEP, sebuah komisi sipil pemerintah memperkirakan jumlah mereka yang hilang mendekati 11.000 orang. Para korban meliputi tidak hanya para gerilyawan bersenjata, yang organisasinya praktis sudah dibasmi, tetapi siapapun yang diyakini berhubungan dengan kelompok-kelompok front radikal, termasuk para anggota serikat buruh, mahasiswa dan orang-orang yang dianggap berpandangan kiri. (misalnya, biarawati Prancis Leonie Duquet, yang diculik oleh Alfredo Astiz). Sembilan ratus orang lainnya dibunuh atau “dihilangkan” oleh pasukan-pasukan maut, di antaranya adalah Triple A, yang dihubungkan dengan rezim Peronis sebelum kudeta. Gerilya bertanggung jawab atas pembunuhan sekitar 1.500 orang pada masa ini, ditambah hampir 1.800 penculikan.
Organisasi-organisasi yang erat terkait dengan terorisme negara ini meliputi Batallón de Inteligencia 601 dari unit militer , Sekolah Mekanik Angkatan Laut the Naval Mechanics School (ESMA), dan Secretaría de Inteligencia de Estado SIDE. SIDE bekerja sama dengan DINA, mitranya dari Chili dan dan satuan-satuan intelijen Amerika Selatan dalam Operasi Burung Kondor.
Para sanak keluarga dari korban-korbannya menemukan bukti-bukti bahwa sejumlah anak dari para korban menemukan bukti-bukti bahwa beberapa anak diambil dari ibu mereka segera setelah mereka dilahirkan dan kemudian dibesarkan sebagai anak-anak angkat dari sejumlah keluarga militer, seperti dalam kasus Silvia Quintela. Selama hampir tiga puluh tahun, sebuah kelompok yang menyebut dirinya Ibu-ibu dari Plaza de Mayo telah menuntut dikembalikannya anak-anak yang diculik ini, yang diperkirakan jumlahnya mencapai 500 orang. Sebagian korban bahkan didorong jatuh dari pesawat ke perairan Río de la Plata atau Samudera Atlantik hingga tenggelam (bentuk penghilangan ini diistilahkan vuelos de la muerte, “penerbangan maut”).

TIPE PEMERINTAHAN SIPIL
Tipe pemerintahan sipil yang terkenal di Argentina dipimpin oleh Presiden Juan Peron yang memerintah dari tahun 1946-1955. dan sejak runtuhnya kekuasaan militer pada tahun 1983, hingga sekarang sipil yang memegang kendali pemerintahan di Argentina. Pada masa pemerintahan sipil, keadaan tidal lebih baik. Dapat kita lihat pada masa pemerintahan Presiden Juan Peron dimana prestasi ekonomi sangat buruk, korupsi merajalela dan tingkat penganguranmeningkat.
Berikut adalah keadaan perekonomian dan kehidupan sipil di Argentina pada tahun 1958-1967:
1. Kenaikan GDP perkapita rata-rata pertahun 0,3%
2. Kenaikan produksi barang-barang pabrik rata-rata pertahun 1,9%
3. Tingkat kenaikan produksi pertanian rata-rata perthaun 1,5%
4. Kenaikan biaya hidup rata-rata pertahun 31,2%
5. Jumlah Impor-Ekspor total per 1000 penduduk 0,12%
6. Surplus ekspor rata-rata pertahun, prosentase dari perdagangan total 0,1%
7. Tingkat kericuhan politik 0,2%
8. Jumlah dikeluarkannya sanksi pemerintah 39,0%
9. Prosentase Anggaran Belanja untuk kesejahteraan sosial 21,9%
10. Prosentase Anggaran Belanja untuk pertahanan 19,9%.
Pada permulaan reformasi dalam pemerintahan Argentina sejak tahun 1983, perekonomian Argentian sanagt kacau balau. Utang luar negeri ARGENTINA yang sangat banyak memaksa negeri ini bergantung kepada IMF dan lembaga ekonomi dunia lainnya. Krisis ekonomi yang berkepanjangan terutama pada tahun 1999-2002. Setelah Presiden Neston Kirchner berkuasa , pertumbuhan ekonomi meningkat 8,0%, utang luar negeri Argentina 9,5milyar US dollar dibayar. Presiden Kirchner mengeluarkan kebijakan mengontrol harga minyak, melakukan subsidi energi dan memberikan bantuan kredit kepada masyarakat.

PERBANDINGANNYA
Dari keadaan perekonomian dan kehidupan/ prestasi politik dari pemerintahan militer dan sipil pada tahun 1958-1967 dapat kia bandingkan bahwa:
Kenaikan pendapatan GDP perkapita rara-rata pertahun antara pemerintahan militer dan pemerintahan sipil tidak terlalu menunjukkan perbedaan yang cukup signifikan, hanya berbeda 0,1%. Yang mana padaaa pemerintahan militer terjadi peningkatan GDP pertahun yang lebih baik jika dibandingkan dengan pemerintahan sipil. Dari kenaikan produksi barang pabrik juga dapat kita lihat bahwa dalam pemerintaahn militer, tingkat kenaikan produksi barang pabrik rata-rata pertahun lebih banyak dan meningkat jika dibandingkan pemerintahan sipil. Mungkin saja dari data tersebut, kelompok militer lebih mampu dalam memajukan perekonomian, kaum militer seringkali memprioritaskan pada pembangunan bidang industrialisasi dalam menunjukkan kekuatan militer dan menjamin kekuatan nasional dalam menghadapaiu bahaya perang.
Dari kenaikan produksi pertanian, pemerintahan militer lebih baik dari pemerintahan sipil. Namun perbedaannya tidak terlalu signifikan. Sementara dari tingkat biaya hidup, dibawah sistem pemerintahan sipil biaya hidup lebih tinggi jika dibandingkan dengan pemerintahan militer. Kenaikan biaya hidup dipengaruhi oleh tingkat inflasi. Pada masa pemerintahan militer, penguasa militer memilki modal khusus dan kemampuan dalam usaha menanggulangi inflasi. Militer memiliki kemampuan dan kebebasan untuk bertindak dan memaksakan pelaksanaan kebijaksanaan-kebijaksanaan
anti inflasi. Mereka labih mudah melakukan tindakan ekonomi yang tidak popular termasuk pennghapusan deficit pemerintahan dengan cara memotong subsidi dan pelayanan jasa pemerintah dan meningkatkan pemungutan pajak.
Dalam bidang perdagangan internasional perbedan antara pemerintahan militer dan sipil tidak terlalu besar hanya 0,01%. Hal ini mematahkan anggapan bahwa kaum militer memiliki pengalaman dan administrasi yang baik dalam berhubungan dengan bangsa-bangsa asing.
Dari segi kehidupan sosial dalam masyarakat, baru tampak jelas perbedaan antara pemerintahan militer dan pemerintahan sipil. Pada masa pemerintahan militer lebih banyak terjadi kericuhan politik yang diikuti dengan dikeluarkannya sanksi pemerintah yang cukup banyak dalam mengatasi kericuahn tersebut. dan dalam bidang kesejahteraan sosial, pemerintahan sipil lebih memperhatikan kepentinagn rakyat jika dibandingkan dengan pemerintahan militer. Hal ini dapat dilihat dari persentase anggaran belanja yang dikeluarkan negara untuk kesejahteraan sosial dimana pemerintahan sipil lebih besar jumlahnya.
Dari berbagai indicator dan bahan pembanding dapat dijelaskan antara peemrintaahn militer dan sipil terkait bidang perekonomian tidak terlalu banyak perbedaan. Dalam sistem pemrintahan negara Argentina, pemerintahan sipil tidak jauh lebih baik mengurus perekonomian jika dibandingkan militer. Tetapi dalam kehidupan sosial masyarakat dapat kita lihat bahwa selama kehidupan dalam pemerintahan militer terjadi pelnggaran hak azasi manusia dengan pembantaian rakyat Argentina terutama pada masa 1976-1983. Masyarakat Argentina hidup dalam ketakutan dan suasana yang mencekam.dalam pemerintahan sipil yang dimulai pada tahun 1983 kondisi perekonomian tidak jauh lebih baik, bahkn dapat dikatakan lebih parah. Hal ini tidak lepas dari warisan-warisan pemerintahan militer sebelumnya yang berkuasa cukup lama. Baru kemudian setelah Presiden Neston Kirchner berkuasa, kondisi perekonomian dan sosial semakin membaik.

Categories: Catatan Kuliah | Tags: | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.