International Cooperation and International Security: International Organizations, Alliances, and Coalitions

Tulisan ini didasarkan atas buku Paul R. Viotti and Mark V. Kauppi yang berjudul International Relation and World Politic, Security, Economy, Identity (Third Edition), Chapter 6 (Hal: 192-237) dengan topik International Cooperation and International Security: International Organizations, Alliances, and Coalitions yang diterbitkan Upper Saddle River pada tahun 2006.. Adapun hal yang akan dijelaskan dalam tulisan ini adalah mengenai empat pendekatan yang digunakan untuk membangun kerjasama dalam hubungan internasional, dan sebagai upaya-upaya untuk mewujudkan dan menjaga perdamaian dan keamanan internasional didalam sistem internasional.

Paul R. Viotti and Mark V. Kauppi dalam buku mereka mengemukakan bahwa fenomena-fenomena dalam dunia internasional seperti Perang Teluk yang terjadi akibat invasi Irak atas Kuwait merupakan suatu bentuk dari sistem internasional yang bersifat anarkis. Sistem politik internasional dimana terdapat fenomena seperti terjadinya konflik dan meningkatnya kerjasama antar negara. Konflik yang terjadi dan disertai aktivitas negatif yang semakin meningkat seperti perang antar negara dapat membuat perselisihan yang semakin kompleks dalam sistem internasional. Sementara jika terjadi atau timbulnya kerjasama antar negara dan disertai dengan aktivitas positif yang semakin meningkat seperti kerjasama atau kordinasi antar negara, bekerja sama dalam menghadapi permasalahan atau isu yang berkembang akan membuat atau menciptakan keselarasan ( harmony ) dalam sistem internasional tersebut.
Situasi politik internasional yang anarkis dan perkembangan globalisasi membuat negara-negara saling berinteraksi satu sama lain. Interaksi ini bukan hanya dalam hal kerjasama, tetapi juga dalam bentuk konflik antar negara. Kerjasama dapat dipahami sebagai deretan aktivitas di luar konsultasi atau pengkoordinasian pada satu akhir spectrum menuju kerjasama penuh pada akhir yang lain. Kerjasama yang dibentuk negara-negara dunia berfokus pada kerjasama dalam hal keamanan; kerjasama internasional bidang ekonomi dan lembaga-lembaga sosial. Jika terjadi hubungan yang selaras antara negara-negara, maka juga akan terjadi keselarasan dalam hal pembuatan kebijakan bersama. Kebijakan ini dipengaruhi oleh pemahaman yang sama dan saling menguntungkan dari kepentingan-kepentingan masing-masing negara, walauu dalam poin berbeda sekalipun. Untuk terjadinya kerjasama, setiap aktor harus mengubah tingkah lakunya. Oleh karena itu, sebuah hubungan kerjasama tidak harus timbula dari idealisme.
Kerjasama atau kolaborasi oleh negara-negara tidak selalu memberikan kemudahan-kemudahan, tujuan positif kepada yang lain. Secara bersamaan, beberapa negara boleh bekerjasama dalam mengeksploitasi kelemahan negara lain secara ekonomi, suatu harga kadang dituntut oleh negara-negara sedang berkembang terhadap negara maju, negara industri. Jadi, tidak menngejutkan jika negara-negara bertumpu pada diplomasi.
Politik internasional bukan hanya mengenai kerjasama dan hubungan yang harmonis yang terjalin antar negara-negara dunia. Konflik juga sering terjadi yang diakibatkan oleh perbedaan kepentingan negara-negara. Konflik yang terjadi di antar negara dapat disebabkan oleh berbagai masalah seperti mempertahankan wilayah territorial, intervensi terhadapa negara lain, konflik karena kehormatan nasional, dan konflik yang disebabkan suatu negara yang berusaha mempertahankan hak territorial atau hak istimewa untuk melindungi kepentingan keamanan dan kelangsungan hidup negara.
Sistem politik internasional yang anarkis dan seringnya terjadi konflik diantara negara-negara didunia membuat sistuasi dunia internasional menjadi lebih “panas” dan mengancam perdamaian dan keamanan dunia. Perang yang terjadi di Eropa dan Asia yang mengakibatkan jatuhnya banyak korban membuat perhatian masyarakat internasional tertuju pada peristiwa tersebut dan mendorong lahirnya pemikiran-pemikiran atau ide-ide yang ingin menyelesaikan permasalahan tersebut. Terdapat beberapa alternatif atau pilihan yang dapat diambil dalam menghadapi sistem politik internasional yang besifat anarkis tersebut dan membangun kerjasama dan keamanan. Alternatif tersebut yakni, membentuk institusi yang memiliki kewenangan penuh seperti dengan adanya pemerintahan dunia, yang kedua yakni dengan bekerja sama membentuk aliansi dan koalisi dalam menghadapai masalah bersama dan yang ketiga yakni dengan berpartispasi dalam keamanan bersama multilateral dan usaha-usaha perdamaian untuk menegakkan hukum internasional, serta yang keempat adalah pembentukan konsensus dan perluasan organisasi-organisasi dan rejim internasional untuk untuk menjalankan tugasnya secara fungsional terhadap berbagai macam isu-isu pada agenda global abad 21
Pemerintahan dunia sebagai salah satu cara dalam membangun perdamaian dan keamanan internasional. Pembentukan pemerintahan dunia meliputi: manajemen politik dunia internasional dan politik dunia yang terpusat. Pemerintahan dunia memiliki kekuasaan dan pengaruh serta kewenangan sebagai institusi tertinggi yang melebihi kekuasaan negara-negara, sebagai contoh: pembuatan hukum yang terpusat, lembaga peradilan dan pelaksanaan undang-undang dan lembaga peradilan serta institusi pelaksana undang-undang. Adanya sistem pemerintahan dunia sebagai bentuk sistem unipolar dalam politik internasional walaupun sistem pemerintahan dunia belum pernah terwujud secara nyata. Sistem ini dapat terbentuk jika terdapat negara atau kelompok negara yang mendominasi sistem serta adanya pembentukan pemerintahan dunia. Aturan-aturan dalam sistem ini adalah: kekuatan pusat memainkan peranan dominant dalam membentuk dan menjalankan aturan dalam persoalan yang berpengaruh terhadap sistem seperti ekonomi dan militer, kekuatan pusat memainkan peran kunci dalam penyelesaian perselisihan diantara unit dibawahnya, kekuatan pusat menentang usaha unit dibawahnya untuk menerima otonomi yang lebih besar, unit subordinat terutama jika berada diluar pengawasan mengurangi dan melepaskan diri dari kekuasaan kekuatan hegemoni
Alternatif kedua dalam mewujudkan perdamaian dan keamanan internasional, yakni dengan bekerjasama dengan aliansi, koalisi serta organisasi internasional. Aliansi adalah koalisi antara negara-negara, biasanya bersifat formal dan memiliki komitmen jangka panjang, walaupun tidak semua koalisi adalah adalah aliansi, sedikitnya tidak dalam hal penggunaan formal. Sebagai salah satu contoh aliansi adalah NATO, yang juga sebagai suatu organisasi internasional, dan koalisi dalam bidang pertahanan keamanan. Aliansi ataupun koalisi dapat bersifat defensive maupun ofensif. Aliansi ofensif mencoba mengacaukan tatanan atau perimbangan kekuatan yang ada, yakni dengan tindakan yang mengancam keamanan dan perdamaian internasional karena cenderung bersifat agresif. Sementara defensif bertujuan untuk memelihara perdamaian dan mempertahankan ketahanan dalam negeri. Dalam aliansi, tidak selamanya negara-negara yang bersahabat memiliki kepentingan yang sama. Walaupun beraliansi, negara-negara yang bersahabat itu mempunyai perbedaan dalam diri mereka sendiri, aliansi dan koalisi lain yang mereka bentuk menyediakan arena atau forum untuk aktivitas-aktivitas kooperatif dan kolaboratif.
Pemerintah yang berusaha mengadakan aliansi, koalisi seperti persekutuan militer biasanya didasari anggapan bahwa untuk mencapai tujuan nasional, mempertahankan kepentingan atau menangkal ancaman, kemampuan nasional negara tersebut tidak memadai, sehinggga dirasa perlu untuk mencari negara lain yang menghadapi masalah serupa, atau tujuan serupa yang bisa dicapai bersama. Strategi persekutuan berkaitan erat dengan kebutuhan domestic. Negara yang memiliki masalah ekonomi yang serupa akan berusaha membentuk solidaritas bersama dalam bidang perdagangan. Negara yang memiliki alasan ideologi atau politik agresif cenderung membentuk persekutuan militer yang agresif. Karakteristik geografi juga menjadi faktor penting terbentuknya aliansi dan koalisi. NATO adalah salah satu contoh aliansi militer yang dilatarbelakangi sebagai upaya membendung pengaruh komunis Uni Soviet di kawasan Uni Eropa. NATO juga sebagai salah satu aliansi yang didasarkan atas kerjasama suatu kawasan yakni negara-negara di kawasan Atlantik utara.
Alternatif ketiga dalam mewujudkan perdamaian dan keamanan internasional adalah dengan cara keamanan bersama (collective securiry). Ide dasar dari pendekatan ini adalah rasa kebersamaan dalam pelaksanaan hukum internasional dan kebijakan terhadap negara-negara aggressor. Collective security berorientasi regional dan global dan bertujuan mempengaruhi dan meminta negara-negara untuk tidak melakukan sesuatu dengan melanggar hukum internasional dan melakukan agresi kepada negara lain. Negara-negara dalam konsep collective security mengontrol kebijakan luar negerinya dengan berjanji menghadapai aggressor dengan kekuatan yang lebih besar lagi. Ancaman melalui kekuatan yang besar adalah upaya penegakan hukum internasional yang dipandang sebagai suatu cara yang efektif untuk menghentikan agresi dan mematuhi hukum internasional. Berbeda dengan agresi yang mempercayakan perimbangan kekuatan di antara negara yang berkompetisi sebagai cara efektif mewujudkan perdamaian dan keamanan internasional, collective security menganjurkan penggunaan kekuatan yang lebih besar sebagai cara yang efektif. Pengambilan keputusan dalam collective security adalah dengan negosiasi dan dalam situasi darurat digunakan dengan consensus. Pembentukan LBB dan PBB sebagai salah satu upaya collective security dalam menegakkan hukum internasional dan mewujudkan perdamaian, PBB dibentuk sebagai akibat kegagalan LBB dalam menciptakan perdamaian dunia setelah meletusnya Perang Dunia I (PDI). Diplomasi yang dilakukan melalui PBB adalah diplomasi multilateral dimana diplomasi ini sebagai suatu pendekatan untuk mengatur kerjasama dan hubungan konflik yang telah ada dari sistem bersama pada abad 19. Upaya keamanan kolektif (collective security) dapat dilakukan dengan menyertakan kekuatan bersenjata. Sebagai contoh seperti yang terjadi di Semenanjung Korea dan pada waktu Perang Teluk..
Terdapat beberapa permasalahan dalam konsep keamanan bersama yang juga dimana sebagai batasan terhadap konsep tersebut. Pertama, kebingungan yang terjadi tentang penyebab dan akibat dalam hubungan di antara keamanaan bersama dan perdamaian, apakah keamanan bersama yang mendorong perdamaian atau keamanan yang membentuk konsep keamanan bersama. Kedua, perbedaan antara komitmen dan tindakan negara dalam keamanan bersama, negara sering tidak menepati komitmen internasionalnya pada saat tindakan negara-negara aggressor secara tampak dilakukan pelanggaran hukum internasional. Sebagai contoh reaksi internasional yang tidak perduli terhadap invasi Irak atas Kuwait. Ketiga, upaya-upaya collective security yang tidak membangun elemen-elemen seperti rencana perang, latihan bersama. Keempat, terdapat kemungkinan perbedaan pengambilan keputusan berdasarkan unilateralisme atau dominasi seseorang dalam mengambil keputusan. Kelima, mekanisme keamanan bersama dalam suatu operasi dapat membuat permasalahan menjadi lebih luas. Keterlibatan dunia internasional dalam suatu konflik dapat membuat konflik tersebut nejadi lebih luas, menjadi konflik kawasan, bahkan konflik mengglobal.
Dalam suatu konflik keterlibatan dunia internasional dapat menyebabkan konflik tersebut mejadi semakin meluas, namun bukan berarti keterlibatan pihak ketiga dalam hal ini keamanan bersama seperti pasukan penjaga perdamaian PBB tidak diperlukan. Pasukan penjaga perdamaian sabagai perpanjangan tangan dari keamanan bersama untuk mengatasi konflik yang mengancam perdamaian dan keamanan internasional terutama di kawasan dimana konflik tersebut sedang terjadi. Pasukan penjaga perdamaian dibutuhkan untuk menjaga daerah perbatasan dan diharapkan dapat menghentikan perang. Pasukan penjaga perdamaian sangat dibutuhkan terutama ketika suatu pemerintahan sedanga mengalami stagnasi, perang sipil yang berkobar, dan kelaparan yang menyebar sebgaai contoh dalam kasus Somalia dimana pasukan penjaga perdamaian PBB dikirim untuk menjaga pasokan makanan.
Upaya yang dilakukan dalam meningkatkan perdamaian dapat dilakukan dengan menjaga perdamaian. Hal ini dilakukan untuk mempromosikan perdamaian selama terjadinya perang. Dalam menjaga perdamaian, penggunaan kekuatan militer menjadi alternative yang terakhir. Upaya menjaga perdamaian dapat merupakan inisiatif dari semua organisasi, baik itu ditingkat internasional atau lingkup regional. Kesuksesan menjaga perdamaian dapat diakhiri dengan tercapainya perjanjian damai. Keterlibatan PBB dalam perjanjian damai menjadi sangat penting. Selain itu menjaga perdamaian dapat juga dilkukan dengan adanya intervensi kemanusiaan. Intervensi ini dilakukan untuk menghentikan meningkatnya angka kematian dan penderitaan akibat konflik atau perang.
Pasukan penjaga perdamaian adalah pasukan yang berassal dari berbagai negara di dunia yang dikirim ke daerah konflik di bawah bendera PBB. Pasukan ini sering disebut sebagai pasukan blue helmets yang bertugas menjaga daerah konflik khususnya wilayah perbatasan agar konflik tidak semakin meluas. Adanya pasukan perdamaian juga merupakan salah satu bentuk intervensi pihak ketiga dalam suatu konflik. Indonesia sebagai salah satu negara anggota PBB yang ikut serta mewujudkan perdamaian dunia juga berpartisipasi dalam misi pasukan perdamaian ke daerah konflik. Tercatat sudah lebih dari sepuluh kali kontingen atau pasukan Garuda yang dikirim ke daerah konflik seperti Kamboja Kongo, dan terakhir Libanon pada tahun 2007.
Selain tiga alternative dalam menciptakan perdamaian dan keamanan intrernasional terdapat pendekatan keempat sebagai suatu cara dalam mewujudkan perdamaian tersebut. Pendekatan keempat tersebut adalah dengan menjalin kerjasama multilateral bukan hanya dalam masalah pertahanan dan keamanan, tetapi juga membahas fungsi-fungsi penting lainnya dalam kawasan regional dan global melalui suatu organisasi yang membidangi suatu permasalahan tertentu.. Selain PBB beserta enam organ penting di dalamnya, terdapat agen-agen khusus yang bergerak dalam bidang sosial ekonomi, seperti FAO yang membahas permasalahan pangan dunia, WTO dalam bidaang perdagangan , IMF dalam bidang keuangan, ILO untuk tenaga kerja, UNESCO dalam bidang pendidikan, UNDP dalam bidang pembangunan , UNICEF, UNHCR dan sebagainya. Peran organisasi-organisasi tersebut sangat penting dalam menciptakan perdamaian dan kemanan internasional. Walaupun NGO berinteraksi dengan organisasi internasional yang berhubungan dengan bidang pertahanan dan keamanan, mereka juga harus berinteraksi dalam bidang kesejahteraan umat manusia dalam aktivitas umat manusia. NGO mempengaruhi agenga danh program kerja organisasi internasional, beberapa juga memantau secara tertutup tingkah laku dari organisasi internasional tersebut. Adapun prinsip kerja mereka adalah; secara langsung memposisikan diri mereka mengetahui official dari organisasi internasional tersebut; secara tidak langsung mempengaruhi, berdasarkan jaringan mereka yang luas dengan pemerintahan nasional; mempbublikasikan pandangan mereka melalui media massa, televise atau internet.
Pada saat terjadinya perang dingin, kolaborasi fungsional dalam organisasi internasional dapat bertahan, yang didukung oleh betapa pentingnya tugas dari rencana mereka. Akhirnya, peraturan PBB dalam jumlah konferensi internasional didesain untuk membangun konsensus global dalam kepentingan isu sosial, ekonomi dan hak azasi manusia. Pendekana melalui kolaborasi fungsional organisasi internasional bukanlah suatu pendekatan yang baru. Dimulai pada tahun 1960 sebagai suatu usaha perundangan dalam bidang pembangunan dan kerjaasama strategis. Tahun 1990an diadakan konferensi-konferensi internasional yang membahas permasalahan dalam bidaang pendidikan, pembangunan, kesehatan, kerjasama perdagangan dan bidang yang lainnya. Teori yang mendasari keterlibatan organnisasi-organisasi tersebut adalah teori fungsionalisme.
Ruang lingkup hubungan internasional sangat luas yang mengkaji berbagai hubungan atau interaksi, baik antar negara maupun asosiasi dan organisasi non-negara, baik hubungan yang bersifat politik maupun hubungan yang bersifat non-politik, seperti ekonomi, sosial dan kemanusiaan. Interkasi internasional merupakan proses komunikasi dan pertukaran antara aktor-aktor dalam sistem internasional yang relevan secara politik. Interkasi ini mencerminkan tuji uan-tujuan, sumber-sumber daya, dan tindakan-tindakan dari para aktor tersebut, yang dapat merupakan masalah yang dipengaruhi oleh konteks serta tingkatan berlangsungnya interkasi internasional itu. Hal-hal diaatas berkaitan dengan perspektif pluralisme dan fungsionalisme. Fungsionalisme merupakan suatu aliran pemikiran yang mendukung fungsi integrasi. Bahwa negara-negara bukanlah satu-satunya aktor penting dalam hubungan internasional, tetapi ada organisasi-organisasi internasional baik itu IGOs dan NGOs. Banyak isu-isu teknis yang tidak dapaat diselesaikan pada ruang lingkup nasional menyebabkan perlunya kerjasama dan pendelegasina pengendalian dan penanggulangan isu-isu teknis tersebut melalui kerangka kelembagaan dan operasional organisasi internasional.
Dari keempat alternative yang ditawarkan dalam kerangka kerjasama dan keamanan internasional sebagai upaya untuk mewujudkan perdamaaian dunia, upaya seperi koalisi, aliansi, organisasi internasional, keamanan bersama dan organisasi fungsional lainnya dapat menjadi upaya yang mampu menjaga perdamaian dan dapat terjadi kapan saja. Sementara upaya melalui adanya pemerintaahan dunia adalah suatu upaya yang sulit untuk direalisasikan. Hal ini disebabkan karena tidak adanya satu negara tertentu yang memilki kekuatan ataupun hegemoni yang sangat besar dimana negara-negara lain didunia tunduk pada kekuatan tersebut. Sistem internasional pada saat ini adalah suatu sistem dengan sistem multipolar, dimana bukan hanya satu atau dua aktor yang sangat berpengaruh melainkan terdapat banyak aktor yang juga memainkan peran penting dalam hubungan internasional. Aktor-aktor tersebut saling berhubungan dan berinteraaksi satu sama lain membentuk kerjasama internasional. Jadi, upaya yang terbaik dalam rangka mewujudkan dan menjaga perdamaian dunia adalah dengan kerjasama internasional dan keamanan internasional baik itu kerjasama seperti koalisi, aliansi, keamanan bersama dan kerjadsama melalui organissai internasional
Dalam studi Organisasi dan Administrasi Internasional khususnya mengenai upaya perwujudan perdamaian dan keamanan internasional semua alternatif yang ditawarkan merupakan suatu bentuk kerjasama dalam kerangka Organisasi dan Administrasi Internasional baik koalisi, aliansi, collective security, maupun oraganisasi khusus yang membahas bidang tertentu. Dalam mencari dan mengupayakan perdamaian dan keamanan internasional banyak usaha dan upaya yang telah dilakukan oleh aktor-aktor hubungan internasional. Organisasi-organisasi internasional baik yang bersifat pemerintah dan non pemerintah memainkan peranan yang signifikan dalam mengupayakan perdamaian. Peran PBB dan lembaga lainnya tidak bisa dipungkiri telah membawa hasil yang cukup memuaskan dalam mendorong stabilitas perdamaian dan keamanan. Dalam teori hubungan internasional menurut pandangan kaum realis, upaya untuk mengusahakan perdamaian dapat dilakukan dengan dua jenis variasi yakni dengan cara ‘keras’ dan cara ‘lembut’. Menurut pandangan kaum realis yang menyatakan bahwa: ketertiban dan stabilitas dalam hubungan internasional hanya akan dapat dicapai melalui distribusi kekuasaan ( power politics). Kaum realis berpendapat bahwa keseimbangan kekuasaan dan kekuatan ( balance of power ) merupakan kunci dalam penyelesaian konflik. Cara ‘keras’ yang digunakan dalam penyelesaian konflik adalah dengan penggunaan kekuatan sedangkan cara ‘lembut’ dilakukan dengan diplomasi dan mediasi.
Perang sebagai suatu cara dalam mencapai perdamaian telah melahirkan banyak organisaasi-organisasi internasional. Organisasi-organisasi internasional tersebut dibentuk atas kesepakatan negara-negara yang ingin bekerja sama dalam memecahkan permasalahan dalam hubungan internasional dan mengupayakan perdamaian. Organisasi internasional tersebut baik yang berskala global seperti PBB maupun lingkup regional seperti ASEAN, Uni Eropa, OAU, dan lainya menggunakan cara yang berbeda dalam menciptakan perdamaian dan keamanan. Sebagai contoh ASEAN lebih banyak menggunakan diplomasi sebagai pencegahan dan mediasi. Sementara PBB, NATO dan Uni Eropa lebih menggunakan sanksi dalam mencegah dan mengupayakan konflik.
Aktor-aktor hubungan internasional terutama organisasi-organisasi internasional dalam mencari dan mengupayakan tercapainya perdamaian dan keamanan melakukan tindakan seperti penyelesaian pertikaian atau konflik secara damai, menyelenggarakan keamanan bersama dan perlucutan senjata, menjaga perdamaian dan keamanan, pengawasan militer serta mendorong terciptanya perdamaian dan keamanan dalam suatu kawasan. Mencari dan meningkatkan perdamaian dan keamanan dalam dunia internasional dapat dilakukan juga dengan pengawasan militer dan perlucutan senjata. Perlucutan senjata termasuk membatasi, mengawasi dan mengurangi senjata. Upaya yang dilakukan dalam pengawasan militer tersebut yakni, meletakkan permasakah pengawasan militer pada agenda internasional. Artinya, pengawasan militer menjadi bahan pembicaraan dalam suatu pertemuan internasional. Banyak konfrensi-konfrensi khusus yang dilakukan untuk membahas permasalahan seperti ini. Tindakan pengawasan militer menyangkut membatasi pengembangan kemampuan senjata nuklir, larangan penggunaan senjata kimia dan biologi serta larangan raanjau darat. Larangan penggunaan senjata-senjata tersebut dilakukan agar tidak menimbulkan jatuhnya lebih banyak lagi korban, terutama masyarakat sipil yang tidak berdosa. Sejauh ini, larangan penggunaan senjata kimia dan biologi serta larangan penggunaan ranjau darat menyangkut bidang produksinya, penimbunannya, pengembangannya, penjualannya, dan penggunaannya sudah efrensi ektif. Namun larangan pengembangan teknologi senjata nuklir menjadi kabur, karena kesepakataan yang telah dicapaai dalam Nuclear Non-Proliferation Treaty tidak dipatuhi secara sungguh-sungguh. Banyak negara yang secara tersembunyi mengembangan teknologi persenjataan nuklir. Dan pengembangan nuklir pun telah menjadi dominasi negara-negara yang kuat dan berpengaruh.
Mendorong secara bersama-sama terwujudnya perdamaian dalam keamanan suatu kawasan juga menjadi salah satu upaya menciptakan perdamain dunia. Seperti kita ketahui bersama bahwa, konflik di Timur Tengah menjadi permasalahan yang paling ‘keras’ dan sepertinya tanpa pernah akan berakhir. Perselisihan antara Israel dan negara-negar Arab menjadi suatu fenomena yang paling controversial. Perhatian seluruh dunia selalu tertuju pada kawasn ini. Dalam kasus ini, peran serta aktor internasional menjadi sangat dibutuhkan. Tiga International Governmental Organization telah memainkan peran atau tugas kunci dalam menyelesaikaan konflik. Liga Arab, Gerakan Non-Blok dan Organisasi Konfrensi Islam ( OKI ) telah berusaha dalam mewujudkan perdamaian dalam kawaasan ini.
Upaya-upaya tersebut adalah suatu upayaa yang termasuk dalaam kerangka kerjasama internasional dan keamanan internasional. Setiap negara dapat menjalin kerjasama dengan negara lain, baik itu kerjasama bilateral dua negara atau kerjasama multilateral ataupun kerjasama melalui organisasi-organisasi dalam ruang lingkup regional dan global. Perjanjian-perjanjian dan kesepakatan bersama yang dibentuk antar negara adalah suatu wujud komitmen mereka dalam membatasi tingkah laku anarkis negara dalam mewujudkan perdamaian dan keamanan internasional. Kerjasama dalam suatu kawasan juga merupakan suatu cara yang efektif dalam mewujudkan perdamaian dunia. Kerjasamaa yang terjalin dalam suatu kawasan dapat mencegah ataupun mnejauhkan negara-negara dalam kawasan tersebut dari konflik atau permasalahan.
Dalam upaya menciptakan perdamaian dan keamanan dunia internasional banyak tantangan yang akan dihadapi. Bukan hanya persoalan perang dan konflik, tetapi menyangkut proses terjadinya konflik atau perang tersebut. untuk itu perlu adanya dukungan dan keterlibatan semua pihak termasuk aktor hubungan internasional. Peran dan tugas organisasi internasional sangat dibutuhkan dan diuji dalam kasus ini. Penjelasan mengenai upaya dalam mencari dan mencapai perdamaian dan keamanan memberikan gambaran bagi kita dalam mempelajari kajian Organisasi dan Administrasi Internasional.
Sebagai salah satu negara di dunia, yang aktif dalam organisasi internasional seperti PBB dan ASEAN, Indonesia menyatakan komitmennya dalam mendukung upaya-upaya damai dalam mewujudkan perdamaian dan ketertiban dunia. Hal ini dilandasi akan cita-cita perjuangan bangsa Indonesia yang tercermin dalam pembukaan UUD 1945 dan dilaksanakan melalui politik luar negeri yang bebas aktif yang secara aktif turut dalam upaya menjaga perdamaian dunia. Indonesia dalam upayanya ikut serta menjaga dan mewujudkan perdamaian dan keamanan dunia intrenasional, jika dikaitkan dengan empat alternatif yang dikemukakan oleh Paul R. Viotti dan Mark V. Kauppi tidak dilakukan dengan membentuk atau bergabung dalam suatu koalisi ataupun aliansi tertentu, tetapi lebih cenderung kepada upaya yang dilakukan seperti yang dikemukakan pada alternative ketiga dan keempat yakni dengan membentuk keamanan bersama dan menjalin kerjasaamaa multilateral bukan hanya dalam masalah pertahanan dan keamanan, tetapi juga kerjasama dalam bidang yang lain seperti daalam bidang sosial, ekonomi, budaya, pendidikan dan kemanusiaan.
Upaya yang dilakukan Indonesia mewujudkan perdamaian, kerjasama dan keamanan internasional melalui konsep collective security adalah bergabung dengan organisasi internasional yakni PBB dan ikut serta berpartisipasi dalam tugas-tugas PBB mewujudkan perdamaian. Hal ini dapat dibuktikan dengan peran serta pasukan Indonesia sebagai pasukan perdamaian yang turut serta membantu PBB dalam mengamankan daerah-daerah yang sedang dilanda konfllik. Melalui Perserikatan Bangsa-Bangsa, dimana Indonesia sebagai salah satu anggota tidak tetap dewan keamanan PBB, Indonesia berpeluang memainkan peran positif dalam DK-PBB dalam staatusnya sebagai negara anggota ASEAN yang memiliki pengaruh yang cukup disegani dikawasan Asia Tenggara. Keberadaan Indonesia daalam dalam DK-PBB hendaknya menjadi faktor penguat untuk mendorong ASEAN untuk berbuat lebih banyak dalam menciptaakan perdamaian dan keamanan dikawasan Asia Tenggara, sesuai dengan apa yang yang diharapkan oleh piagam PBB. Misalnya, Indonesia dapat memainkan peran lebih substansif dalam mendorong penyelesaian masalah-masalah dikawasan yang menjadi agenda Dewan Keamananan PBB seperti masalah Myanmar. Keberadaan dan peran Indonesia dalam DK-PBB akan terasa lebih bermakna apabila Indonesia senantiasa bersikap pro-aktif dari padaa sekedar memberikan reaksi terhadap inisiatif ynag diajukan negara-negara anggota DK-PBB lainnya, khususnya negara-negara anggota tetap Dewan Keamanan PBB
Melalui organisasi-organisasi seperti WHO, FAO, ILO, UNESCO, UNDP, WTO dan organisasi-organisasi yang membidangi bidang tertentu seperti bidang pendidikan, kemanusiaan, kesehatan, pembangunan dan bidang yang lain, Indonesia juga turut serta menciptakan, mewujudkan dan menjaga perdamaian dan keamanan internasional. Keterlibatan Indonesia melalui organisasi tersebut dapat memberikan manfaat bagi Indonesia sendiri dan juga bagi negara lain yang juga ambil bagian organisasi tersebut

Categories: Catatan Kuliah | Tags: | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.