Glossaries

Tugas Individu
Nama : Eko Sanjaya Tamba
NIM : 0601114071.
Jurusan : Hubungan Internasional.
M. Kuliah : Metode Penelitian Sosial.
Dosen : DR. Alimin Siregar.

GLOSSARIES

1. KONSEP
Konsep adalah salah satu symbol yang paling penting dalam bahasa. Ilmu atau sains mulai dengan menciptakan konsep-konsep untuk mendiskripsikan dunia empiris. Suatu konsep adalah abstraksi yang mewakili suatu objek, sifat suatu obyek atau suatu fenomena tertentu. Misalnya “kekuasaan”, “demokrasi”, “modernisasi”, “revolusi” adalah konsep-konsep yang umum ditemui dalam ilmu politik.
Jadi, konsep sebenarnya adalah sebuah kata yang melambangkan suatu gagasan. Ia bukan sesuatu yang asing. Kita menggunakannya sehari-hari untuk menyederhanakan kenyataan yang kompleks dengan mengkategorikan hal-hal yang kita temui berdasar ciri-ciri yang relevan bagi kita. Konsep dalam ilmu social menunjuk pada sifat-sifat dari objek yang dipelajarinya yang relevan bagi studi tertentu.
(Mohtar Mas’oed. Ilmu Hubungan Internasional Disiplin dan Metodologi. Jakarta:LP3ES, 1994: hal. 93-94)

2. TEORI
Kata “teori” berasal dari bahasa Yunani yang artinya “melihat” atau “memeperhatikan”. Dari pengertian ini bisa dikatakan secara gampang bahwa teori adalah suatu pandangan atau persepsi tentang apa yang terjadi. Jadi berteori adalah ‘pekerjaan menonton”; yaitu pekerjaan mendiskripsikan apa yang terjadi, menjelaskan mengapa itu terjadi dan mungkin juga meramalkan kemungkinan berulangnya kejadian itu dimasa depan.Teori membantu kita menjelaskan dan meramalkan fenomena politik dan dengan demikian juga membantu pembuatan keputusan praktis. Ketika menjelaskan suatu fenomena, teori memerlukan pembuktian secara sistematik. Artinya, teori harus diuji dengan bukti-bukti yang sistematik. Teori yang baik adalah teori yang bisa didukung atau ditolak melalui analisa yang jelas dan penggunaan data secara sistematik.
( Mohtar Mas’oed.. Ilmu Hubungan Internasional Disiplin dan Metologi. Jakarta: LP3ES, 1994: hal 185-187).
Teori adalah suatu kumpulan konsep, definisi, dan proposisi yang menggambarkan fenomena secara sistematis melalui penentuan hubungan antar variebel dengan tujuan untuk menjelaskan atau memprediksi fenomena yang terjadi, dan merupakan perangkat proposisi yang terintegrasi secara sintaksis ( mengikuti aturan tertentu yang dapat dihubungkan secara logis satu dengan yang lainnya, dengn dasar kata yang dapat dialami ).
(DR.Lexy.J.Moleong, M.A. Metode Penelitian Kualitatif, Bandung: Remaja Rosdakarya, 1989: hal 39)

3. PARADIGMA
Suatu perspektif untuk memahami perkembangan ilmu sebagai hasil dari persaingan antara berbagai kerangka konseptual, pendekatan, teoriatau model yang oleh ilmuwan disebut paradigma Secara sederhana paradigma bisa diartikan sebagai aliran pemikiran yang memiliki kesamaan asumsi dasar tentang suatu bidang studi, termasuk kesepakatan tentang kerangka konseptual, petunjuk metodologis dan tehnik analisis.
Paradigma berfungsi menuntun ilmuwan untuk menentukan masalah-masalah mana yang penting untuk diteliti, menunjukkan cara bagaimana masalah itu harus dikonseptualisasikan, metode apa yang cocok untuk menelitinya dan bagaimana cara menginterprestasikan hasil penelitian. Selain itu, menentukan batas-batas ruang lingkup suatu disiplin atau kegiatan keilmuwan dan menetapkan ukuran untuk menilai keberhasilan disiplin tersebut.
( Mohtar Mas’oed..Ilmu Hubungan Internasional Disiplin dan Metodologi. Jakarta: LP3ES, 1994: hal 8)

4. METODOLOGI
Metodologi yaitu prosedur bagaimana pengetahuan tentang suatu fenomena diperoleh. Agar bisac melakukan penelitian dengan benar, para peneliti harus menyadari “metodologi” yang mereka terapkan, yaitu prosedur yang mereka pakai dalam mendeskripsikan, menjelaskan dan meramalkan fenomena. Pengetahuan tentang metodologi memang tidak menjamin kita nahwa kita akan mampu merumuskan masalah, konsep dan teori yang baik. Metodologi membantu kita menyingkirkan hambatan dsalam penelitian. Penegtahuan tentang metodologi bisa membantu kita memahami dan menilai informasi yang mempengaruhi keputusan yang kita buat dalam hidup sehari-hari.
( Mohtar Mas’oed.Ilmu Hubungan Internasional Disiplin dan Metodologi. Jakarta: LP3ES, 1994: hal 2-3)

5. METODE
Metode merupakan cara utama yang dipergunakan untuk mencapai suatu tujuan, misalnya untuk menguji serangkaian hipotesa, dengan mempergunakan tehnik serta alat tertentu. Cara utama itu dipergunakan setelah penyelidik memperhitungkan kewajarannya ditinjau dari tujuan penyelidikan.
( DR. Winarno Suracman.Msc. Dasar dan Tehnik Research, Pengantar Metodologi Ilmiah. Bandung: Tarsito: hal .121)

6. VARIABEL
Secara agak longgar para ilmuwan menyebutkonstruk-konstruk atau sifat-sifat yang mereka pelajari sebagai “variable”. Contoh-contoh variebel yang penting dalam sosiologi, psikologi, dan pendidikan ialah: jenis kelamin, penghasilan, kelas social, produktivitas, dan lain-lain. Dapat dikatakan variebel ialah suatu sifat yang dapat memiliki bermacam nilai kalau diungkapkan. Secara berlebihan, variable adalah sesuatu yang bervariasi. Cara ungkap itu memberi kita gagasan intuitif tentang variable, tetapi masih dibutuhkan wawasan yang lebih umum sekaligus lebih tepat.
Variable adalah symbol, lambing yang padanya kita lekatkan bilangan atau nilai. Misalnya x adalah sebuah variable, ia adalah suatu symbol / lambang yang padanya kita lekatkan nilai yang berupa angka.
Dikutip dari:
( Fred. N. Kerlienger, Asas-Asas Penelitian Behavioral. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1990: hal. 49).

7. SAMPEL
Sampel atau sample adalah contoh, representat atau wakil dari satu populasiyang cukup besar jumlahnya. Tujuan peneliti mengambil sampel ialah memperoleh keterangan mengenai objeknya, dengan jalan hanya mengamati sebagian saja dari populasi. Pengambilan sampel ini dilakukan Karena sering tidak dimungkinkan untuk mengamati segenap anggota dari populasi yang sangat besar jumlahnya satu persatu. Oleh karena itu, perlu diadakan pengambilan sampel dari satu populasi dengan tujuan:
1. Mengadakan reduksi terhadap kwantitas objek yang diteliti, reduksi dalam artian pengurangan.
2. Mengadakan generalisasi terhadap hasil penelitian
3. Menonjolkan sifat-sifat umum dari populasi
Syarat yang sangat penting dalam pengambilan sampel itu adalah sampel harus mewakili populasi
( Dra. Kartini Kartono, Pengambilan Metodologi Research Sosial. Bandung: Alumni, 1976: hal. 146.)

8. KUALITATIF
Penelitian kualitatif: penelitian yang objeknya adalah manusia atau segala sesuatu yang dipengaruhi manusia, datanya tidak menggambarkan jumlah atau bilangan yang pasti melainkan menggunakan logika.
( DR. Lexy. J. Moleong, Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya, 1989: hal. 151. )

9. KUANTITATIF
Kuantitas : yaitu bentuk, luas, berat, serta jumlah. Hal itu meliputi juga pengertian, misalnya berat, tinggi, susunan, volume, bentuk dan segala sesuatu yang dapat diukur.
Konsep kuantitatif menunjuk pada berapa banyak suatu kualitas dimiliki oleh suatu hal ( misalnya, konsep penghasilan, yang mengukur berapa banyak kualitas itu dimiliki oleh seseorang). Jadi setiap istilah dasar sains bersifat kuantitatif dalam dalam arti bahwa ia menunjuk pada suatu kualitas. Angka-angka dipakai hanya untuk memperjelas “kualitas” itu.
( Mohtar Mas’oed..Ilmu Hubungan Internasional Disiplin dan Metodologi. Jakarta: LP3ES, 1994: hal. 73.)

10. TRIANGULASI
Triangulasi adalah tehnik pemeriksaaan keabsahan data yang lain diluar data itu, untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data itu. Teknik triangulasi yang paling banyak digunakan adalh pemeriksaan melalui sumber lainnya. Denzin (1978) memebedakan empat macam triangulasi sebagai tehnik pemeriksaan yan ng memanfaatkan penggunaan number, metode, penyidik dan teori.
( DR. Lexy. J. Moleong, MA, Metode Penelitian Kuantitatif. Bandung: Alumni, 1989: hal. 178.)

11. PENELITIAN ILMIAH
Pengetahuan yang diperoleh dengan pendekatan ilmiah diperoleh melalui penelitian ilmiah dan dibangun diatas teori tertentu. Teori itu berkembang melalui penelitian ilmiah yaitu penelitian yang sistematik dan terkontrol berdasarkan data empiris. Penelitian ilmiah akan menghasilkan kesimpulan yang serupa bagi hampir setiap orang, karena pendekatan tersebut tidak diwarnai oleh keyakinan pribadi, bias dan perasaan. Cara penyimpulannya bukan subjektif melainkan objektif. Dengan pendekatan ilmiah orang berusaha untuk memperoleh kebenaran ilmiah, yaitu pengetahuan benar yang kebenarannya terbuka untuk diuji oleh siapa saja yang menghendaki untuk mengujinya.
( Sumadi Suryabrata, Metodologi Penelitian.Jakarta: Rajawali, 1983: hal. 6)

12. PENELITIAN TIDAK ILMIAH
Ada beberapa penelitian non ilmiah yang banyak digunakan, yaitu
1. Akal Sehat, akal sehat adalah serangkaian konsep dan bagian konseptual yang memuaskan untuk penggunaan praktis bagi kemanusiaan.
2. Prasangka
3. Pendekatan Intuisi, dalam pendekatan intuisi terdapat mengenai sesuatu berdasar atas pengetahuan yang langsung atau didapat dengan cepat melalui proses yang tidak disadari atau yang tidak dipikirkan terlebih dahulu.
4. Penemuan kebetulan dan coba-coba, penemuan coba-coba diperoleh tanpa kepastian akan diperolehnya sesuatu kondisi tertentu atau pemecahan sesuatu masalah
5. Pendapat otoritas ilmiah dan pokiran kritis.
.( Sumadi Suryabrata, Metodologi Penelitian. Jakarta: Rajawali, 1983: hal. 3-5)

13. ABSTRAKSI
Merupakan penggabungan gagasan yang tidak dapat ditangkap oleh indra. Abstraksi juga merupakan pandangan , cara mendapatkan kesimpulan / teori / pengertian umum dengan melihat gejala dan peristiwa yang kerap terjadi
( Surawan Martinus, Kamus Kata Serapan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2001: hal 6 )

14. POSITIVISTIK
Positivistic adalah aliran filsafat yang beranggapan bahwa pengetahuan itu semata-mata berdasarkan pengalaman dan ilmu yang pasti.
( Surawan Martinus, Kamus Kata Serapan. Jakarta: Gramedia pustaka Utama, 2001: hal. 470 )
Posivistik merupakan paradigma ilmu pengetahuan yang paling awal muncul daalm dunia ilmu pengetahuan. Keyakinan dasar aliran ini barakar dari paham ontology realisme yang menyatakan bahwa realitas ada dalam kenyataan yang berjalan sesuai dengan hukum alam.
( Denzin Guba, Teori dan Paradigma Penelitian Sosial disunting oleh Agus Salim Yogyakarta: Tiara Wacana 1994: hal. 39)

15. POSTPOSITIVISTIK
Paradigma ini merupakan aliran yang ingin memperbaiki kelemahan-kelemahan positivisme yang hanya mengandalkan kemampuan pengamatan langsung terhadap objek yang diteliti. Secara ontologis aliran ini bersifat critical realism yang memandang sama bahwa realitas memang ada dalam kenyataan sesuai dengan hukum alam, tetapi suatru hal yang mustahil bila suatu realitas dapat dilihat secara benar oleh manusia ( peneliti ). Oleh karena itu, secara metodologis pendekatan eksperimental melalui observasi tidaklah cukup, tetapi harus menggunakan metode triangulation yaitu penggunaan bermacamn-macam metode, sumber data, peneliti dan teori.
( Denzin Guba, Teori dan Paradigma Penelitian Sosial disunting oleh Agus Salim. Yogyakarta: Tiara Wacana, 1994: hal. 40)

16. KONSTRUKTIVIS
Constructivism assumes the relativism of multiple social, recognize the mutual creation of knowledge by the viewer and the viewed, and aims toward interpretive understanding of subjek meaning. A constructivist approach necessitates a relationship in which they can cast their stories in their terms. It means listening to their stories with opponess to feeling and experienced.
( Guba and Lincoln,1994, dalam Hand Book Of qualitative Research. London: Sage Publications, Inc, 2000: hal. 510)
Paradigma ini hampir merupakan antitesis dari paham yang meletakkan pengamatan dan objektivitas dalam menemukan suatu realitas atau ilmu pengetahuan. Paham ini menyatakan bahwa paham positivisme dan postpositivisme merupakan paham yang keliru dalam mengungkap realitas dunia. Karena itu kerangka berpikir kedua paham ini harus ditinggalkan dan diganti dengan paham yang bersifat konstruktif.
( Denzin Guba, Teori dan Paradigma Penelitian Sosial disunting oleh Agus Salim Yogyakarta: Tiara Wacana, 1994: hal. 41)

17. GROUNDED RESEARCH
Penelitian grounded yang ditokohi Glaser dan Strauss pada tahun 1967 di Amerika Serikat dan berikutnya diperkenalkan di Indonesia oleh Schiegel, merupakan jenis penelitian yang tidak bertolak dari teori, tetapi berangkat dari data-data factual lapangan. Data-data tersebut diproses menjadi teori berdasarkan metode berpikir deduktif.
Penelitian grounded berangkat dari dunia empiris, bukan dari hal yang konseptual dan abstrak, karena penelitian grounded menekankan pada lahirnya teori berdasarkan data empiris dan realitas social.
Penelitian atau asumsi yang mendasari penelitian grounded adalah kalau ingin memahamitindakan manusia dengan benar maka tidak dapat digunakan teori atau konsep tentang tindakan social yang dirumuskan terlebih dahulu. Sebelum penelitian itu sendiri dimulai. Konsep dan hipotesis itu muncul dari data itu sendiri, dimana kategori, penjelasan dan keterangan tidak pernah dibuat sebelum penelitian terjadi.
Langkah-langkahnya:
1. Peneliti harus mempunyai pengertian tentang sifat empiris yang akan diteliti
2. merumuskan pertanyaan.
3. menemukan data dan tehnik pengumpulan data
4. menentukan hubungan antar data
5. Menafsirkan hasil penelitian.
Dikutip dari: Dra. Nurul Zuriah, MSi, Metode Penelitian Sosial dan Pendidikan,Teori-Aplikasi. ( Jakarta: Bumi Aksara, 2006): hal. 78-79

18. TESIS
Tesis dibuat untuk memenuhi sebagian dari syarat-syaratguna mendapatkan gelar kesarjanaan, Doctorandus, Master of Arts, Master of Science dan gelar kesarjanaan lainnya yang sederajad dengan gelar tadi. Tesis itu merupakan hasil penelitian yang lebih luas dan dan berkualitas tinggi jika dibandingkan field study. Bidang ( scope ) dari tesis lebih luas, lebih mendalam, metodologinya lebih cermat. Dari tesis ini dituntut adanya sumbangan material berupa penemuan-penemuan baru, tata kerja baru, teori, dalil-dalil dan hukum hukum social baru yang meliputi satu aspek ilmiah atau meliputi satu lapangan spesialisasi.
( Dra. Kartini Kartono. 1976. Pengantar Metodoligi Research Sosial. Bandung: Alumni, 1976:hal. 61-62)

19. SINTESIS
Berasal dari bahas Yunani, “sunthesis”, Sun = bersama , Thitemi = dengan meletakkan.oleh karena itu sintesis dapat diartikan sebagai penggabungan beberapa unsure/ bagian yang terpisah menjadi satu kesatuan utuh. Dapat juga dikaatakan bahwa sintesis merupakan penggabungan antara tesis dan antitesis.
( Surawan Martinus, Kamus Kata Serapan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2001: hal. 567 )

20. ANTI TESIS
21. DATA
Fakta-fakta, statistic dan bentuk lain informasi yang memberikan bahan mentah untuk analisa. Dalam arti yang paling luas, data meliputi segala sesuatu yang informative yang dapat dirasakan secara inderawi. Beberapa peneliti telah mempersempit pengertian mengenai data dengan menjadika fakta sebagai yang telah digolongkan dan diakui sdemikian rupa sehingga bisa dipakai sebagai dasar untuk menggambarkan atau menguji generalisasi.
( Jack.C. Plano dkk, Kamus Analisa Politik. Jakarta, Rajawali,1982: hal. 56)

22. DIALEKTIKA
Segala sesuatu yang terjadi atau fenomena, merupakan hasil pertentangan antara dua hal dan akan menimbulkan hal yang lain lagi.
( B.N. Marbun, Kamus Politik. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 2003)

Categories: Catatan Kuliah | Tags: | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.