Feminist dan Revolusi Bolivarian

PERJUANGAN PEMBEBASAN PEREMPUAN DALAM REVOLUSI BOLIVARIAN

I. Latar Belakang
Tulisan ini akan menjelaskan mengenai revolusi Bolivarian, bagaimana peran serta dan perjuangan perempuan dalam revolusi tersebut. Revolusi Bolivarian adalah suatu revolusi dimana rakyat berperan aktif dalam bidang politik dan beriusaha untuk mengubah nasibnya ditangan mereka sendiri dan mengubah tatanan masyrakat dari bahwa. Hugo Chavez sebagai pemimpin revolusi, mendasari politik dan pemerintahannya berdasarkan cita-cita dan prinsip dari Simon Bollivar, seorang tokoh nasionaalis yang anti penjajahan Spanyol, yang dikagumi rakyat negara-negara Amerika Latin. Oleh Hugo Chavez garis politik yang diinspirasi oleh gagasan-gagasan besar Simon Bolivar itu kemudian dikembangkan jadi garis revolusioner untuk mengubah negeri, pemerintahan dan masyarakat Venezuela. Revolusi Bolivarian ini disebut juga sosialisme Bolivarian, atau sosialisme revolusioner dan demokratik, atau sosialisme partisipatif, yang kemudian juga dinamakan sosialisme abad ke-21.
Sejak bulan Januari 2005 presiden Hugo Chavez melancarkan “perang” terghadap ‘latifundia” (pemilikan tanah secara luas sekali). Sebab, menurut angka-angka resmi, 5% dari penduduk Venezuela (kebanyakan berkulit putih) memiliki 80% luas tanah, baik yang di perkotaan maupun pedesaan dan pertanian. Kampanye Hugo Chavez untuk masalah ini berselogan : “Pembebasan untuk tanah dan manusia. Lawan latifundia!”. Ia juga berkali-kali menyatakan bahwa: “Perang terhadap latifundia ini adalah isi pokok dari revolusi Bolivarian. Revolusi yang tidak memperbaiki pemilikan tanah, yang tidak memberikan tanah untuk petani, tidak memberikan tanah kepada yang mengerjakan, tidak bisa menamakan diri lagi revolusi” kata Hugo Chavez.
Selama beberapa dekade terakhir, berbagai pemerintahan, baik di negari-negeri maju maupun berkembang, dengan setengah hati mengatasi persoalan ketidaksetaraan gender yang menyejarah dengan memfokuskan pada perumusan peraturan-peraturan yang bertujuan untuk memajukan partisipasi kaum perempuan di dalam pemerintahan; menjalankan kebijakan afirmatif; serta merancang dan meloloskan peraturan yang sensitif gender. Sejauh ini, perubahan legal dan institusional tersebut, meskipun memang diperlukan guna meletakkan landasan bagi transformasi masyarakat, hanyalah merupakan langkah pembuka. Sudah semakin jelas, terkait dengan penerimaan umum terhadap sebuah fenomena kuno yang disebut sebagai “feminisasi kemiskinan” belum lama ini, bahwa upaya-upaya tersebut harus diperluas. Jalan keluar persoalan tersebut menghendaki penggunaan sebuah pendekatan yang menyeluruh berdasarkan pada berbagai strategi sosial dan ekonomi—tak cukup sekedar jawaban politis ala tambal sulam legislatif.

II. Gerakan Feminisme ( Perempuan ) dalam Revolusi Bolivarian
Revolusi Bolivarian bukan hanya bergerak dalam bidang politik dan sosial kemasyarakatan. Revolusi Bolivarian juag telah berhasil meningkatkan hak-hak kaum wanita di Venezuela. Sebelumnya, meskipun Konstitusi 1960 menyatakan bahwa perempuan dan laki-laki secara formal setara di muka hukum, namun kaum perempuan yang selama ini aktif dalam perjuangan demokrasi merasa tak memiliki hak-hak khusus, bahkan disingkirkan dari politik. Selain hambatan-hambatan organisasional, kaum perempuan Venezuela juga dihambat oleh sanksi, hukum perdata, dan ketenagakerjaan. Kaum perempuan yg hidup bersama dan sudah menikah tidak diperbolehkan mengatur urusannya sendiri; membuat keputusan bagi anak-anaknya; bekerja, memiliki harta; atau menandatangani dokumen resmi tanpa persetujuan pendamping.
Sejak kaum perempuan Venezuela memulai misi kesetaraan gender, mereka menghadapi seragkaian hambatan politik, ekonomi, dan sosial. Berbagai upaya mengorganisir gerakan perempuan lintas klas terhambat oleh persaingan antar para partisan partai politik yang dominan di Republik ke Empatvii, yaitu: Partai sosial demokrat (Acción Democrática) dan Partai Kristen Demokrat (COPEI). Belum lagi tradisi maskulinisme (machismo) yang kuat bercampur dengan hukum-hukum pidana, perdata dan perburuhan yang diskriminatif yang menghambat berbagai upaya untuk lebih jauh dari sekedar jaminan hak suara (legal enfranchisement) dan untuk menciptakan suatu demokrasi gender yang menyeluruh bagi kaum perempuan.
Perubahan iklim internasional yang mendukung feminisme, serta pendapatan fiskal yang bertambah tiga kali lipat antara tahun 1972 dan 1975 terkait dengan booming minyak Venezuela, memberikan sumbangan bagi pembentukan sebuah lembaga kenegaraan bagi kaum perempuan, serta lolosnya sejumlah langkah hukum yang menguntungkan perempuan. Namun, selain kemajuan hukum yang substansial ini—dalam hal pembuatan dan penerapan berbagai hukum dan kebijakan yang ditujukan untuk meningkatkan kepedulian terhadap isu-isu perempuan—ketimpangan gender sejauh ini hanya ditangani di permukaan saja. Kaum perempuan Venezuela tetap tersingkir secara politik; dieksploitasi secara ekonomi; dan sedikit berperan, jikalau pun menyumbang kemajuan, dalam mentransformasi norma-norma sosial.
Dengan berkuasanya Chávez tahun 1998, Venezuela menghancurkan tatanan demokrasi lamanya untuk menciptakan suatu masyarakat yang lebih demokratik dimana hak-hak warganegara diakui lebih dari sekedar politis. Gagasan Bolivarian telah mengabdikan dirinya untuk menganalisa, baik penyebab-penyebab yang sudah begitu jauh menghalangi pembangunan suatu masyarakat berlandaskan keadilan sosial dan kesetaraan, maupun untuk berjuang menemukan sebuah solusi yang masuk akal yang mampu mengatasi keruwetan sosial dan perekonomian negeri. Melanjutkan cita-cita ini, metode pendekatan sejumlah persoalan di dalam masyarakat, termasuk kemiskinan kaum perempuan, tidak lagi terpusat pada perundang-undangan semata, tapi juga pada solusi-solusi lain yang nyataix. Sementara keberhasilan dari berbagai upaya ini harus tetap benar-benar terukur, yang pasti bahwa, perundang-undangan saja tidak mampu untuk memberantas kemiskinan.
Perjuangan hak-hak perempuan telah memasuki suatu makna baru di dalam Revolusi Bolivarian. Dengan terpilihnya Hugo Chávez Frías di tahun 1998, Venezuela mengajukan sebuah demokrasi yang berlandaskan partisipasi, ketika hak-hak rakyat tidak didefinisikan semata-mata politis melainkan juga keadilan sosial dan kesetaraan. Sebagian besar perempuan berharap pada revolusi ini, mengabdikannya untuk menghancurkan ‘demokrasi’ formal yang kaku dan ekslusif, sebagai sebuah permulaan dari fase baru dalam memperjuangkan kesetaraan gender. Fokusnya tidak lagi pada perjuangan hak-hal hukum formal dan kekuasaan politik, melainkan mengubah keseluruhan struktur masyarakat.
Salah satu tindakan pertamanya sebagai presiden, Chávez meminta Majelis Konstituante merancang sebuah Konstitusi baru yang akan berfungsi sebagai katalisator untuk mengubah struktur masyarakat Venezuela yang stagnan dan eklusif. Ribuan perempuan, termasuk kaum feminis, mantan gerilyawan, ibu-ibu rumah tangga, para profesional, dan anggota organisasi-organisasi seperti Kaum Perempuan untuk Venezuela (Women for Venezuela) dan Persatuan Pemimpin Perempuan (United Women Leader) membentuk Front Perempuan Konstitusional untuk Pergerakan Republik Kelima (FCMMVR) yang mendidik dan mengorganisai kaum perempuan untuk merancang berbagai tuntutannya agar dicantumkan di dalam Konstitusi serta memajukan calon feminis ke dalam Majelis Konstitusional. Dengan lolosnya Konstitusi Baru pada tanggal 15 Desember 1999, kaum perempuan Venezuela memperoleh dua kemenangan sosial politik yang luar biasa, sekaligus sebagai konstitusi yang paling maju di dunia.
Konstitusi Venezuela, yang sering dirujuk sebagai Magna Carta yang tidak seksis, menjamin keseluruhan hak-hak sosial, politik, dan ekonomi seluruh rakyat. Konstitusi tersebut dengan jelas menyatakan bahwa perempuan berhak atas kewarganegaraan penuh, dan mengatur mengenai diskriminasi, pelecehan seksual, serta kekerasan domestik. Lebih jauh lagi, untuk menjamin kesetaraan penuh antara perempuan dan laki-laki di tempat kerja, inilah satu-satunya Konstitusi di Amerika Latin yang mengakui pekerjaan rumah tangga sebagai aktitivas yang produktif secara ekonomi, sehingga memberikan ibu rumah tangga hak untuk mendapatkan jaminan sosial (pasal 88). Dengan menjadikannya sebuah kerja yang sebelumnya tidak diakui bernilai ekonomi, Venezuela sedang menghancurkan norma-norma sosial kemasyarakatan dan ideologi kapitalis yang secara ekslusif menumpuk nilai dari memproduksi pendapatan.
Konstitusi Venezuala (Pasal 76) juga mengakui hak-hak reproduksi dan seksual kaum perempuan dan mewajibkan negara untuk menjamin agar dokter memberikan informasi akurat mengenai keluarga berencana. Pasal tersebut mengakui fungsi sosial ibu dan menjamin perawatan kesehatan bagi ibu, dari mulai konsepsi hingga paska kelahiran. Pasal 75 menyatakan bahwa hubungan keluarga didasarkan pada kesetaraan hak dan kewajiban, dalam solidaritas, dalam kesepahaman serta saling menghormati.
Pencapaian terbesar gerakan perempuan serta masyarakat secara keseluruhan, adalah, meleburnya seluruh perspektif gender dan bahasa non-seksis di semua bagian Konstitusi. Bahasa Spanyol, seperti halnya semua bahasa-bahasa Barat (kecuali Inggris), membedakan versi maskulin dan feminin pada jabatan pekerjaan, seperti “presidente” (presiden laki-laki) dan “presidenta” (presiden perempuan). Kini, setiap kali ada penyebutan bagi seorang presiden, seorang warga negara, seorang wakil parlemen, seorang menteri dst, penyebutannya mengacu baik pada bentuk-bentuk maskulin maupun feminine yakni sama baik bagi wanita maupun pria. Daripada menggunakan bahasa atau berbudaya dengan cuma-cuma, menerimanya tanpa mau merefleksikannya, Konstitusi Bolivarian lebih memilih mengubah cara kita berbicara mengenai perempuan, dan kemudian cara kita memandang perempuan, cara kita memperlakukan perempuan, dan memposisikan mereka di dalam masyarakat.

III. Kemajuan Feminis dalam Revolusi Bolivarian
Sejak Konstitusi baru diberlakukan, kaum perempuan memainkan peran kunci—baik di pemerintahan maupun di NGO—dalam merancang, memajukan, dan mereformasi berbagai susunan UU di berbagai bidang, termasuk, namun tak terbatas pada: kesehatan, pendidikan, lingkungan, reforma agraria, hak-hak masyarakat pribumi, dan hak-hak reproduksi. Partisipasi perempuan dalam masyarakat sipil sebagai instrumen yang menjalankan kampanye publik guna meningkatkan kesadaran perempuan terhadap isu-isu perempuan serta merumuskan program-program bagi perempuan.
Para aktivis wanita mengakui bahwa perjuangan bagi hak-hak perempuan perjuangan bagi hak-hak perempuan di Venezuela telah mencapai suatu makna baru di dalam Revolusi Bolivarian. Aktivis perempuan di Venezuela mengakui bahwa, Venezuela telah memiliki presiden yang mengerti masalah persoalan perempuan. Presiden Hugo Chavez adalah presiden yang mendukung organisasi perempuan melalui program-programnya. Hugo Chavez dalam beberapa pidato dan amanatnya tidak lupa berbicara mengenai persolan-persoalan perempuan. Untuk pertama kalinya, masalah-masalaah peremepuan menjadi suatu isu sosial yang penting untuk dibahas dan dipecahkan. Dalam pidato-pidato dan setiap pertemuan dengan Chávez selalu dipenuhi oleh kaum perempuan, bahkan kenyataannya, lebih banyak perempuan dari pada laki-laki. Ketika presiden hugo Chavez berbicara, ia berkata Venezolanos y Venezolanas (laki-laki Venezuela dan perempuan Venezuela). Kaum perempuan mengakuinya sebagai pemimpin. Orang dapat melihat sendiri bahwa ada lebih banyak perempuan yang aktif berpartisipasi di dalam revolusi ini dibandingkan laki-laki
Perempuan berperan aktif dalaam revolusi Bolivarian. Kaum perempuan, dalam beberapa kasus lebih aktif dari rekan seperjuangannya laki-laki Mayoritas rakyat yang berpartisipasi dalam misi-misi, aktivitas-aktivitas politik dan komunitas, adalah kaum perempuan. Meskipun perempuan dengan sungguh-sungguh berpartisipasi dalam politik, mereka masih kurang terwakili di dalam posisi-posisi kepemimpinan di pemerintahan. Beberapa tahun belakangan ini terdapat peningkatan partisipasi kaum perempuan yang lumayan di dalam pemerintahan, contohnya, dari 131 anggota Majelis Konstitusional Nasional, 16-nya adalah perempuan. Namun demikian, pada posisi tertinggi masih terdapat kesenjangan yang memprihatikan antara anggota perempuan dan laki-laki. Mulanya Chávez tidak mengangkat satu perempuan pun di pemerintahannya. Namun, pada tahun 2000 ia mengangkat sejumlah perempuan untuk duduk di kabinetnya serta beberapa pos penting lainnya.

a. Terbentuknya Institusi Nasional Untuk Perempuan
Salah satu upaya Hugo Chavec dalam memperbaiki dan meningkatkan peran serta perempuan di Venezuela adalah membentuk dan mendirikan organisasi-organisasi perempuan yang focus terhadap perempuan dan permasalahan perempuan. Pada tahun 2000, Chávez mengubah CONAMU menjadi Institut Nasional untuk Perempuan (INAMUJER) lewat Instruksi Presiden berdasarkan UU Kesempatan yang sama Bagi Perempuan (pasal 44) dan mengangkat María León, seorang pimpinan aktivis hak-hak perempuan, mantan pejuang gerilya, dan mantan direktur CONAMU, sebagai direkturnya. INAMUJER saat ini sedang dalam proses mendidik kaum perempuan untuk membela hak-hak politik yang sudah mereka terima, dan meluaskannya dalam rangka mencapai sebuah masyarakat demokratik sejati, yang tidak hanya secara politik, namun juga secara sosial dan budaya dimana kaum perempuan dan laki-laki dinilai setara. “Feminisme sedang menjangkau sektor-sektor rakyat (yang tertindas—ed),” María del Mar Alvarez, pembela hak-hak perempuan nasional menyatakan dengan suka cita di kantornya. “Biasanya, feminisme mengakomodasi kelas atas dan menengah serta tidak menjangkau sektor-sektor rakyat bawah. INAMUJER berkehendak untuk menyertakan kaum perempuan yang disingkirkan ke dalam wacana feminis.”
Untuk mencapai tujuan ini, INAMUJER mengorganisasi kampanye pendidikan seksualitas; hak-hak reproduksi; pencegahan kekerasan terhadap perempuan; dan mempublikasikan artikel dan buku-buku serta mendistribusikan materi-materinya, termasuk mencetak undang-undang, seperti UU tahun 1998 tentang Kekerasan terhadap Perempuan. Contohnya, pada bulan Maret 2004, INAMUJER menyelenggarakan tiga rangkaian lokakarya yang bertemakan “Hak Asasi Manusia Perempuan”, di mana organisasi-organisasi regional dan non pemerintah dari berbagai negara bagian seperti; Vargas, Miranda, Cojedes, Amozonas, Apure, Corabobo, Guarico, dan Caracas mempresentasikan program pendidikan HAM, hak seksual dan hak reproduksi juga hak-hak yang dielaborasi di dalam Konstitusi, serta berbagai perjanjian internasional. Lokakarya sebelumnya memfokuskan pada asal muasal kekerasan, sejarah gerakan perempuan, dan konsep-konsep seperti gender dan feminisme.
Organisasi tersebut juga membuat jalur telepon hotline bagi korban kekerasan domestik, sekaligus mendirikan rumah perlindungan, Casa de Abrigo bagi perempuan yang ketakutan di dalam hidupnya. INAMUJER memberikan 24 lokakarya selama setahun untuk mengajarkan perempuan hak-hak mereka, dan cara melaporkan kekerasan domestic. Organisasi perempuan INAMUJER memberi dukungan dan perlindungan bagi perempuan yang menjadi korban kekerasan. Mereka juga melaksanakan program untuk mendidik kepekaan aparat-aparat kepolisian, pengacara, dan dokter terhadap isu-isu gender dan kekerasan domestik demi memastikan bahwa kaum perempuan menerima dukungan dan pelayanan yang dibutuhkannya.
Sebagai tambahan pendidikan kaum perempuan, INAMUJER juga mengawasi dan mengevaluasi kebijakan publik yang ditujukan pada kaum perempuan untuk menjamin ditegakkannya kesetaraan kesempatan serta memastikan Majelis Nasional mengunakan bahasa yang tidak seksis di dalam peraturan-peraturannya. Saat ini mereka terlibat dalam tiga kampanye. Bersama dengan jaringan pengacara, ilmuwan sosial, intelektual, dan feminis, organisasi merumuskan reformasi hukum dan perundangan yang kontradiktif dengan Konstitusi. Contohnya, mereka mempromosikan penghapusan Sistem Hukum Pidana dan merancang model lainnya yang berperspektif gender dan memastikan hak-haknya dijamin dalam Konstitusi. Mereka juga bekerja untuk mengamandemen Undang-undang Jaminan Sosial untuk memastikan bahwa Ibu Rumah Tangga dapat memperoleh dana pensiun mereka sebagaiman yang dinyatakan dalam pasal 88 Konstitusi.
Kampanye kedua berfokus pada perolehan posisi 50% dalam Komisi Pemilihan Umum Nasional, Majelis Nasional, dan pemerintahan, juga posisi lain yang dipilih dengan suara rakyat, agar berada ditangan perempuan. Saat ini hanya, “12% wakil perempuan di Majelis Nasional, sementara di Spanyol sudah mencapai rasio 50/50,” tegas María del Mar Alvarez. Rendahnya persentase perempuan di Majelis Nasional terkait dengan persoalan Undang-undang Hak Suara 1997, yang menghendaki minimum 30%. Kaum feminis di Venezuela, baik yang pro maupun anti Chávez, sangat kaget karena Chávez membiarkan ini terjadi.
Pada kampanyenya yang ketiga, INAMUJER mengajukan demokratisasi keluarga dalam rangka meringankan beban kerja sehari-hari kaum perempuan. María León menekankan, “Republik Bolivarian Venezuela hanya akan mempraktekkan demokrasi yang sejati jika kita turut mentransformasi rumah tangga menjadi sebuah unit yang sungguh-sungguh demokratis.”.
Institut Nasional untuk Perempuan baru-baru ini merayakan ulang tahunya yang kelima dengan mempresentasikan Rencana Nasional bagi Kesetaraan Perempuan 2004-2009, yang didesain untuk mencegah dan menghapuskan kekerasan terhadap perempuan; memastikan hak-hak perempuan serta akses untuk keadilan; memperkuat partisipasi perempuan di dalam politik dan masyrakat; serta mengembangkan dan melaksanakan sebuah rencana kesetaraan hak-hak ekonomi bagi perempuan.

b. Terbentuknya Bank Untuk Perempuan
Selain telah dibentuknya lembaga atau organisasasi yang memperjuangkan hak-hak perempuan di Venezuela, dalam rangka meningkatkan kesejahteraan kaum wanita juga dibentuk lembaga ekonomi yang meningkatkan perekonomian kaum perempuan, yakni Bank untuk perempuan. Menurut berbagai studi yang dilakukan oleh PBB, persentase kaum perempuan yang hidup dalam kemiskinan tidaklah proporsional–diperkirakan diatas 70 % diseluruh dunia. Chávez dan beberapa Kepala Negara lain telah berkomitmen terhadap cita-cita pembangunan milenium (MDG), termasuk mengurangi kemiskinan sampai 50% hingga tahun 2015. Tidak seperti pemerintahan sebelumnya yang hampir tidak pernah memberikan perempuan sebuah posisi simbolik atau kementrian di pemerintahan, Chávez selama ini memberikan perhatian terhadap kompleks dan akutnya feminisasi kemiskinan, serta melaksanakan sebuah upaya yang sungguh-sungguh untuk mengimplementasikan kebijakan yang menyeluruh terhadap bagian dari sektor masyarakat. Mungkin yang terpenting, sekaligus menjadi contoh keberhasilan dari solusi-solusi ini, adalah terbentuknya Bank Pembangunan Perempuan (Banco de la Mujer atau Banmujer) pada tanggal 8 Maret 2001. Bank Pembangunan Perempuan berusaha mengatasi arena yang tidak setara ini dengan memberdayakan kaum perempuaan secara ekonomi, politik dan sosial. Sebagai sebuah bank pembangunan sosial, ia memberikan dua macam pelayanan, yakni: keuangan dan non keuangan.
Pelayanan keuangan terdiri dari pinjaman berbunga rendah yang disebut dengan kredit mikro; konsultasi untuk membentuk dan mengembangkan proyek-proyek; pelatihan administratif; dan tindak lanjut investasi. Banmujer memajukan sebuah konsep pembangunan sosial dan kemanusiaan yang mengistimewakan kaum perempuan, dengan memberikan kaum perempuan pelatihan dan kapasitas (kemampuan) keuangan untuk memulai usaha komunitas kecil serta memperoleh penghasilannya sendiri, termasuk berbagai sumber daya yang dibutuhkan agar mereka dapat memegang kendali kehidupannya
Pada tahun 2001, Chávez mengangkat Nora Castañeda, seorang aktivis hak-hak perempuan dan ekonom di Universitas Sentral Venezuela (UCV), sebagai presiden Banmujer. Selain peran aktifnya dalam merancang Konstitusi Venezuela yang baru, Castañeda memiliki pengalaman yang luas bekerja dengan organisasi-organisasi perempuan akar rumput, kekerasan domestik, dan berbagai reformasi ekonomi yang sensitif-gender. Bank Perempuan berkomitmen untuk pembangunan kemanusiaan yang berkelanjutan, yang lebih jauh [dari sekedar] ekonomi. Bank untuk perempuan sudah melakukan sebuah proses multidimensi yang bertujuan untuk meningkatkan standar hidup kaum perempuan dan keluarganya serta demi generasi mendatang. Dengan memberdayakan kaum perempuan untuk mewujudkan hak-hak dan kewajibannya sebagai warganegara, diharapkan dapat menciptakan keadilan sosial dan perdamaian seperti yang dicita-citakan di dalam konstitusi Venezuela.

IV.Tantangan Feminisme dalam Revolusi Bolivarian
Organisasi-organisasi tersebut, walaupun telah mencapai banyak kemajuan, mereka juga mengalami tantangan dalam revolusi ini. Feminisme di dalam Revolusi Bolivarian menghadapi 3 tantangan utama.
Pertama, Revolusi Bolivarian sejauh ini memfokuskan pada perjuangan kekuasaan diantara ras dan kelas. Meskipun agenda feminis sementara ini masuk ke dalam perdebatan, namun masih harus berjuang untuk memperoleh perhatian yang sama pentingnya, seperti yang diberikan terhadap hubungan-hubungan kekuasaan di antara berbagai kelompok.
Kedua, dengan bermunculannya para ‘pakar’ studi gender di akademi dan lembaga-lembaga publik, juga masuknya segelintir kaum perempuan di dalam lembaga-lembaga politik yang cukup terpandang, kaum feminis harus memfokuskan diri untuk melegitimasi diri mereka di hadapan dunia kapitalis yang seksis, dan oleh karenanya pada tingkatan tertentu, kehilangan pegangan pada basis kerakyatannya. Perjuangan ini sebaiknya harus ditempatkan dalam konteks yang lebih luas yaitu keadilan sosial dan kesetaraan, serta para feminis seharusnya membangun ruang interaksi dengan berbagai gerakan sosial lainnya untuk mewujudkan slogan “sebuah dunia yang lain adalah mungkin” menjadi kenyataan.
Ketiga, sementara banyak undang-undang yang penting telah diratifikasi di tahun 1990an, tantangan di abad ke 21 adalah menggunakan undang-undang ini sebagai dasar untuk mengubah masyarakat. Gerakan Perempuan Venezuela menyadari bahwa tanpa perubahan mental masayarakat, akan menjadi hampir mustahil untuk membuat mereka sendiri setara dengan laki-laki secara hukum, politik, dan sosial. Venezuela adalah satu dari sedikit negara Amerika Latin yang mengakui kekerasan dan diskriminasi terhadap perempuan menghalangi evolusi sebuah masyarakat untuk benar-benar menjadi demokratis berbasis kesetaraan. Venezuela telah mengambil langkah signifikan untuk menghapuskan diskriminasi secara hukum, seperti UU Perburuhan (1997); UU Kekerasan Terhadap Perempuan (1998); UU Kesempatan yang Sama bagi Perempuan (1999); dan UU Sistem Keuangan Mikro (2001). Walau demikian, persoalan-persoalan semacam itu masih terus ada di masyarakat hingga kini.

V. Kesimpulan
Revolusi Bolivarian telah mengubah wajah Venezuela. Bukan hanya dalam bidang politik saja, tetapi perubahan juga terjadi dalam bidang sosial yakni, peningkatan peran serta wanita dan perhatian terhadap kepentingan dan hak-hak mereka. Sebelum terjadinya revolusi Bolivarian, perempuan kurang mendapat tempat dalam struktur sosial dan politik masyarakat Venezuela. Perempuan adalah masyarakat kelas dua. Hak-hak mereka belum diakui sebelumnya. Sejalan dengan revolusi Bolivarian yang dipelopori Hugo Chavez, perempuan ikut ambil bagian dan berpartisipasi dan revolusi tersebut. Perempuan-perempuan Venezuela berusaha memperjuangkan hak-hak dan kepentingan mereka melalui revolusi ini.
Setelah Hugo Chavez berkuasa, hak-hak perempuan dan kepentingan mereka semakin diakui. Perempuan semakin diperhatikan dan diperhitungkan. Hugo Chavez berusaha meningkatkan kesejahteraan dan emansipasi wanita melalui program-program kerjanya. Seperti mendirikan institusi nasional perempuan dan bank khusus perempuan. Melalui kedua lembaga ini, dihaarapkan kepentingan dan hak wanita semaakin diakui dan diperhatikan. Banyak kemajuan yang telah dicapai, namun bukan sedikit tantangan yang menghadang. Semangat perempuan Venezuela dalam memperjuangkan haknya patut menjadi teladan bagi perempuan-perempuan diseluruh dunia, khususnya Indonesia.

Categories: Catatan Kuliah | Tags: | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.