ALTERNATIF PARADIGMA DIALOG

Tugas Individu: Critical Rueview
Nama : Eko Sanjaya Tamba
NIM : 0601114071
Jurusan : Hubungan Internasional
M. Kuliah : Metode Penelitian Sosial

ALTERNATIF PARADIGMA DIALOG

Tulisan ini adalah suatu bentuk kritikan atau perbandingan terhadap tulisan Egon. C. Guba dan Denis C.Philips mengenai alternative paradigma. Tulisan ini akan menjelaskan mengenai , bagaimana untuk melihat suatu paradigma dalam penelitian sosial. Sebagian orang berpendapat bahwa, bentuk paradigma tidak mampu memberikan alasan yang jelas mengenai arti dari paradigma tersebut. Egon C. Guba menyatakan, dalam hal ini tidak mengherankan karena Thomas Khun, orang yang pertama kali memakai konsep ini telah menggunakan dalam bentuk yang paling sedikit dalam dua puluh satu cara.
Egon memilik penilaian sendiri terhadap ke empat paradigma dan tidak membenarkan salah satunya. Konstruktivisme adalah pilihanya, yang mana salah satu konsekuansinya adalah konstruktivisme tidak hanaya meninggalkan objektifitas melainkan subjektifitas. Ada banyak paradigma yang digunakan dalam suatu penelitian, namun yang perlu ditekankan adalah paradigma yang membantu penelitian ilmiah. Para peneliti berfokus pada suatu paradigma yakni positivisme. Dalam menjelaskan suatu paradigma, Egon menyeleksi dengan menggunakan tiga pertanyaan dasar yakni, pertanyaan ontologism, epistemologis dan metodologi.
Menurut Egon. C. Guba, suatu paradigma tidak dapat dibuktikan dalam pengertian mutlak, jika hal itu terjadipasti tidak akan ada keraguan dalam bagaimana melakukan penelitian. Namun, semua paradigma adalah konstruksi dari manuasia yang mungkin saja melakukan kesalahan yang tidak bisa dihindarkan oleh usaha manusia tersebut.
Dalam melihat paradigma positivisme, Egon berpendapat, dilihat dari segi ontologism maka positivisme berakar dalam ontologism realis yang percaya bahwa kenyataan yang berlangsung diluar sana dikemudikan oleh hukum alam yang tidak berubah ( realitas ada dalam kenyataan yang berjalan sesuai dengan hukum alam ). Dan jika dilihat dari segi epistemologisnya maka, positivisme terbatas untuk melakukan epistemologis secara objektif. Sedangkan dalam metodologi, positivisme dilakukan melalui eksperimen untuk menjamin agar temuan yang diperoleh objektif dan menggambarkan keadaan yang sebenarnya.
Untuk paradigma postpositivis, Egon berpendapat, secara ontologis postpositivist bersifat realis kritis yang memandang sama bahwa realitas memang ada dalam kenyataan sesuai dengan hukum alam, tetapi suatu hal yang mustahil bila suatu realitas dapaat dilihat secara benar oleh manusia, dan secara epistemologis postpositivisme merupakan modifikasi objektif namun perlu adanya hubunagn yang bersifat interaktif antar objek dan sipengamat. Secara metodologi, menurut postpositivisme metode yang digunakan adalah modifikasi eksperimen/ manipulatif dan menggunakan metode triangulasi yaitu penggunaan bermacam-macam metode, sumber data, penelitian dan teori karena observasi saja tidaklah cukup.
Paradigma teori kritik, jika dilihat dari segi ontologis sama halnya dengan postpositivisme yakni termasuk aliran realis kritik . Jika dilihat dari epistemologisnya teori kritik menggunakan subjektifitas dalam arti penelitian bergerak sangat erat dengan nilai dari si peneliti. Sedangkan jika dilihat dari segi metodologisnya maka paham ini mengajukan metode dialog dengan transformasi untuk menemukan suatu kebenaran
Dalam menjelaskan paradigma konstruktivis, Egon berpendapat, paradigma positivis maupun postpositivis lebih buruk dan seharusnya digantikan dengan teori-teori: Ladeneness of fact, menyatakan bahwa kenyataan adalah kenyataan jika dalam kerangka kerja teori; Teori Under Determination ( tidak satupun penjelasan yang dapat menjelaskan suatu kenyataan) ; Teori Nilai Ladeness of fact ( realitas dapat dilihat dari jendela teori); Teori Interaktif Alami Penelitian ( penemuan dari sebuah penelitian adalahg bukan merupakan sebuah laporan yang ada diluar sana melainkan hasil dari yang membentuk mereka dan meggambaarkan suatu pengetahuan sebagai hasil dari akitifitas manusia.
Dilihat dari segi ontologis, maka Egon berpendapat bahwa konstruktivisme itu selalu terdapat interpretasi yang menimbulkan penelitian dan ini berasal dari aliran realis, dan jika dilihat dari epistemologisnya maka konstruktivisme menggunakan subjektifitas. Sedangkan dari segi metodologi, konstruktivisme menggunakan dialektika dan hemeneutik.
Dalam tulisan Denis.C. Philips, dijelaskan mengenai paham postpositivism dan dapat diambil kesimpulan berdasarkan jawaban dari pertanyaan yang dijelaskan. Postpositivis merupakan pendekatan yang dinamis, luas dan kompleks dalam ilmu pengetahuan. Post positivis tidak menentang masyarakat untuk menentukan hal-hal yang dipercayai menjadi suatu kenyataan.
Sebagai bahan pembanding, dijelaskan dalam Buku Metode Penelitian ‘Sosial dan Penelitian’ karangan Dra. Nurul Zuriah, Msi dalam positivisme relaitas dapat dipecah menjadi bagian-bagian, yang mana hukum yang berlaku pada magian yang kecil juga berlaku secara keseluruhan. Pengalaman bersifat objektif dan dapat diukur. Pandangan positivisme dalam penelitian dikenal sebagai pandangan kuantitatif.
Sedangkan menurut ahli lain, Robert Jackson dan Georg Sorensen dalam bukunya Introduction to International Relation, Oxford University Press Inc yang dipublikasikan di New York pada tahun 1999, dalam positivis, metode yang digunakan adalah observasi dan pengalaman sebagai kunci untuk membangun dan menilai teori ilmiah. Suatu teori dapat diterima dan ditolak hanya berdasarkan observasi. Teori bersifat akurat ( teori [positivime terbatas dan spesifik ) dan bersifat non-relativis ( teori dipakai dimana-mana dan digunakan dalam kondisi tertentu. Inti positivisme terletak pada epistemologisnya yang mana peneliti dapat membuat generalisasi padaa dunia sosial yang dapat diuji. Dalam positivisme metodologi dan penelitian haarus bebas nilai
Teori kritis dalam buku mereka dijelaskan merupakan penolakan terhadap prinsip dasar positivisme: realitas eksternal objektif, perbedaan subjek/ objek dan ilmu sosial bebas nilai. Menurut mereka, dalam teori kritis, segala sesuaatu yang sosial adalah histories. Bagi teoritisi kritis, pengetahuan bukan dan tidak dapat netral baik secara moral maupun secara politik dan ideology.
Sedangkan konstruktivis dalam buku mereka, dijelaskan sebagai paham yang menyatakan bahwa dunia sosial bukan sesuatu yangt hukum-hukumnya dapat dijelaskan dan ditemukaan melaaui penelitian ilmiah dan teori ilmiah, tetapi merupakan suatu wilayah intersubjektif , dunia sosial sangat berarti bagi masyarakat yang membuat dan hidup didalamnya.
Dari penjelasan tentang berbagai teori yang dikemukan beberapa ahli tersebut, dapat kita lihat kekurangan daan kelebihannya. Berbagai paradigma, baik itu positivis, postpositivis, konstruktivis dan teori kritik dalam tulisan Egon. C.Guba dijelaskan secara menyeluruh dan dan terperinci. Egon menjelaskan paradigma tersebut dengan menggunkan acuan jika paradigma tersebut dilihat dari segi ontologism, epostemologi dan metodenya. Jadi pembaca dapat mengerti mengenai bagaaimana pandanga paradigma tersebut mengenai realitas ( kebenaran dan kenyaatan ) yang telah dijelaskan secara ontologism, bagaimana hubungan antara peneliti (subjek) dengan yang diteliti ( objek ) telah dijelaskan secara epistemologis dan metode yang digunakan dalaam meneliti (metodologi). Hanya saja dalam tulisan Denish J. Philips, yang dijelaskan hanyalah paradigma postpositivistik. Denish menjelaskan mengenai post positivistic secara lebih mendalam.
Pada umumnya, tidak ada perbedaan yang mendasar dari penjelasan beberapa ahli mengenai berbagai paradigma tersebut. Perbedaan hanyaa terlihat dari segi penyampaian dan spesifikasi dari paradigmaa yang dibahas. Dimana dapat dilihat Robert Jackson dan George Sorensen dalam penjelasannya mengenai paradigma tersebut lebih menjelaskan paradigma tersebut secara sederhana dan spesifik lebih mengarah kepada ilmu sosial khususnya ilmu hubungan internasional.
Dengan adanya alternative dalam paradigma berfikir seperti yang te;ah dijelaskan , akan memperkaya paara peneliti dalam melaksanakan penelitiannya karena dalam suatu penelitian penggunaan paradigma, teori dan metode akan menjadi hal yang penting. Sehingga untuk melakukan suatu penelitian peneliti harus mempergunakan paradigmaa, teori dan metode sebagai suatu bagian yang tidak terpisahkan.

Referensi

Robert Jackson & George Sorensen, Inroduction to Internaational Relation, New York: Oxford University Press Inc, 1999
Dra. Nurul Zuriah, MSi, Metode Penelitian Sosial dan Pendidikan,Teori-Aplikas Jakarta:Bumi Aksara, 2006

Categories: Catatan Kuliah | Tags: | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.