Yogyakarta BnB

Tanggal 14 – 16 April 2016 ada kerjaan di Jogja, berhubung ke Jogja so berniat sekalian liburan apalagi pas weekend pula, jadi ga perlu cuti apalagi bolos. Selalu suka ke Jogja. Kota yang paling sering dikunjungi, tempat liburan yang mengasyikkan. Berhubung sudah sering ke Jogja, jadi sudah lumayan hafal kotanya. Biasanya nyewa motor untuk menikmati Jogja. Sewa motor gampang, ntar bakal diantar ke bandara (stasiun) dan dikembalikan lagi disana. Jaminannya cuma beberapa identitas. Berhubung urusan kerjaan, Hotel yg disediain cuma Kamis-Sabtu. Dari awal sudah niat nyari penginapan dari Airbnb. Banyak yang lucu lucu dan unik dan harganya worth it.

Pilihan jatuh ke Yogyakarta BnB. Lokasinya strategis, deket Malioboro. Lingkungan sekitarnya tenang, dikawasan pecinan lama Jogjakarta. Bangunannya rumah tempo dulu yang di desain unik dan lucu. Yogyakarta BnB punya 3 kamar; Anez, Mariza dan Chupriits Room serta 6 tempat tidur dalam 1 dorm. Nginap di Chupriits room, kamar yg paling kecil dan termurah diantara lainnya, tapi lucu bingits. Sukaak.

IMG_20160416_202700

Nuansa rumahnya kece. Suka semuanya deh. Dari beranda, ruang tengah, kamar mandi, pancuran, teras belakang, dapur, balkon atas (loteng), semuanya keren dan nyaman. Mandi di kamar mandi dengan pancuran bambu, seger. Konsep yang diusung Yogyakarta BnB sangat unik dan menarik. Rumahnya walau rumah tua tapi bersih dan nyaman. Hostnya sangat ramah. Sempet ngobrol dengan Mariza dan Chupriits. Berasa dirumah sendiri, bukan di tempat penginapan. Yogyakarta BnB, masuk dalam list tempat yang akan dirindukan dari Jogja.

Silahkan bagi yang mau join di Airbnb https://www.airbnb.co.id/c/ekot15?i=1&s=3

 

 

Iklan

Sendangsono, pelabuhan jiwa yang gelisah.

Minggu lalu melakukan “perjalanan” ke Jogja. Jogja, tempat yang selalu istimewa. Pulang ke Jogja, selalu ada setangkup haru dalam rindu. Jogja selalu berbeda dibanding banyak tempat yang sudah dikunjungi. Makanya ga pernah bosan ke Jogja. Kalau liburan maunya ke Jogja saja.

Hampir seminggu di Jogja, namun ga begitu banyak tempat yang dikunjungi . Niatnya emang mau bersantai dengan suasana baru dan berbeda. Tidur, baca buku, ngobrol, makan, keliling kota tanpa ngoyo ngunjungi onjek objek wisata yang lagi hits. Dari awal sebelum keberangkatan sudah meniatkan diri akan mengnjungi Goa Maria Sendangsono. Sedikit terinspirasi dari film Tiga Hari Untuk Selamanya sih. Entah mengapa kepengen banget ke Sendangsono. Serasa ada yang memanggil untuk mampir kesana. #Halah

Jarak dari Prawirotaman (tempat nginep) ke Sendangsono sekitar 45 km. Kalau kata Google Maps bisa ditempuh selama satu jam. Jreng jreng…akhirnya berangkat jam 04.30 (subuh) menyusuri jalanan yang masih gelap ditemani bulan yang bersinar sangat terang (baru tau kalau malamnya bakal ada Super Blue Blood Moon)

Ga takut sendirian subuh subuh motoran jauh?

“Gak sih..”

Dulu pernah ke Kedung Pedut sendirian, ke Kalibiru juga sendiri. Rutenya hampir samalah, lewat Godean Hitz (Minjem istilah Tito nyebut arah rumahnya Adry, teman teman nebengers Jogja).  Berbekal Google Maps dan “kerinduan” akhirnya menembus jalanan mulus “mencari kitab suci ke Barat”, Baratnya Jogja. Udah berusaha ngapalin jalanan dari Google Maps tapi tetep lupa juga. Wajar sih karena masih subuh jadi sulit ngeliat tanda petunjuk jalan. Naluri sebagai makhluk sosialpun terpanggil. Bertanya ke orang orang yang dipinggir jalan. Bapak/Ibu Mas/Mbak yang baru pulang sholat subuh.

Di sekitar desa Banjarsari Boro, tepatnya di pertigaan yang ada Gereja agak ke atas sikit (Gereja Santa Theresia Lisieux Boro), jalan ke Sendangsono mulai menanjak, menyempit, menikung dan menurun. Suasana perbukitan Menoreh sudah mulai terasa. Udara sejuk, hamparan kebun Jati, rumah rumah tradisional warga, pohon durian yang berbuah menghiasi perjalanan. Sengaja laju diperlambat karena medan jalan yg cukup menanjak. Kondisi jalan relatif bagus, bahkan cenderung mulus. (Ga kayak jalanan di Sumut yang onde mande bikin sakit kepala).

Sekitar pukul 06.00 WIB sampailah di Sendangsono. Berjumpa lagi dengan Maria dalam wujud yang lain. Ah senangnya…!! Sebongkah kerinduan tuntas sudah. Maria sang pelipur lara, Sendangsono pelabuhan jiwa yang gelisah.

IMG_20180131_065838

Terkadang getirnya hidup, kepenatan, kegelisahan, kerinduan yang entah untuk siapa hanya membutuhkan satu pelepasan, diam berdoa mendekatkan diri kepada Sang Empunya Kehidupan. Gak harus ke tempat tempat khusus sih, tapi berziarah bisa menjadi opsi. Bukan hanya soal tempatnya, namun juga proses mencapai tempat tersebut. Niat, tekad dan kerinduan. Perjalanan menyusuri dan menyaksikan berbagai sisi kehidupan memperkaya makna ziarah itu sendiri. 

IMG_20180213_174304

Goa Maria Sendangsono berada di kawasan yang sangat asri, terletak d kaki lembah pegunungan yang dibelah sebuah sungai. Penataan kawasan peziarahan dibangun mengikuti kontur asli kawasan tersebut. Selain patung Bunda Maria, ada beberapa kapel untuk berdoa. Ada beberapa tempat beristirahat untuk para peziarah. Sendangsono yang berarti mata air dari pohon Sono masih bisa dilihat dari balik kaca kaca penutup. Air sudah dialirkan ke keran keran untuk memudahkan para peziarah. Kawasan Goa Maria Sendagsono ditata ulang Romo Mangun. Arsitektur kawasan ini pernah mendapat penghargaan dari Ikatan Arsitek Indonesia. Unik dan menarik memang.

Pagi hari kawasan Goa Maria Sendangsono masih sepi. Jangankan peziarah, para pekerja yang bersih bersih juga belum kelihatan. Suasana jadi lebih khusyuk dan syahdu. Yang ada hanya kicauan burung dalam balutan mentari pagi yang masih malu malu.

Pukul 07.00 memutuskan beranjak pulang.  Jalan pulang terasa lebih ringan. Menikmati sendi sendi kehidupan yang mulai menggeliat. Penduduk sekitar sudah mulai beraktivitas. Perjumpaan di jalan selalu diselingi dengan senyum, keramahan khas masyarakat desa di Jogja.  Di tengah perjalanan menyempatkan diri berkunjung dan berdoa di makam Rm Prennthaler dan Taman Doa Bunda Maria Pelindung Keluarga. Lokasinya di jalan pulang dari Sendangsono menjelang pertigaan Gereja St Theresia Boro.

Di jalan pulang dari Sendangsono, mampir ke Pasar Banjarsari. Pasarnya tidak terlalu ramai. Liatin ada ibu ibu jualan tempe (awal liatin sih aneh, tapi coba tanya tanya dan beli). Tempe benguk. Rasanya unik.

Sepanjang perjalanan pulang akan dimanjakan pemandangan khas pedesaan. Hamparan padi menghijau dipagari Perbukitan Menoreh. Konsonan langit (terVicky Prasetyo) melingkupi, sementara mentari pagi gagah menyinari.

PANO_20180131_084946

Kali Progo yang membelah Kulon Progo, melengkapi deretan karya nyata Sang Pencipta.

 

SITI

SitiSalah satu film yang masuk dalam daftar nominasi Film Terbaik FFI 2015. Selain itu film ini juga menjadi pemenang dalam acara Apresiasi Film Indonesia 2015, ajang penghargaan tahunan yang diadakan Kementerian Pendidikan  dan Kebudayaan. SITI menyisihkan Filosofi Kopi dan Tabula Rasa. Awalnya mengira melewatkan pemutaran film ini di bisokop komersial. Ternyata “SITI” sejak diproduksi tahun 2014 tidak diedarkan secara luas di bioskop. Siti hanya diputar dalam berbagai acara komunitas film dan festival festival baik di dalam dan di luar negeri.

Siti, film hitam putih yang menceritakan perjuangan seorang perempuan bernama Siti yang harus menghidupi keluarga kecilnya setelah suaminya sakit lumpuh. Suaminya hanya bisa terbaring lemah di tempat tidur. Siti juga harus menghidupi seoarang anak dan seorang mertua. Siti yang pagi sampai sore hari berjualan peyek di pantai Parangtritis, malamnya harus bekerja lagi sebagai gadis pelayan karaoke. Pekerjaan yang harus dilakoninya untuk menutupi kebutuhan keluarga dan utang suaminya, semasa kerja di laut dulu. Siti mengumpulkan uang sedikit demi sedikit demi membayar utang kepada rentenir. Di karaoke tempat kerjanya, Siti bertemu dengan Gatot, perwira polisi yang tertarik dan ingin meminangnya. Ditengah kebutuhan hidup yang mendesak, beban utang yang menumpuk, dan tawaran pinangan dari Gatot, Siti diperhadapkan pada situasi yang sulit.

Siti, yang diperankan sangat baik oleh Sekar Sari, aktris yang belum begitu dikenal masyarakat luas, namunSiti 3 aktingnya memukau. Sangat disayangkan malah tidak masuk kedalam nominasi pemeran utama wanita terbaik FFI 2015. Sekar meraih penghargaan sebagai Best Performance dalam Singapore International Film Festival ke 25, tahun lalu.

Film ini sangat sederhana. Dibuat dengan sederhana dengan format sederhana. Namun dibalik kesederhanaan film ini, penonton seakan diajak mendekat dan masuk kedalam dunia Siti. Dunia hitam putih. Berbicara tentang realitas  kehidupan masyarakat pinggiran pantai di Yogyakarta. Kehidupan nelayan yang sangat bergantung dengan alam, dimana laut bisa jadi sumber penghidupan sekaligus petaka bagi para nelayan. Anak anak gadis yang bekerja di luar negeri jadi TKW, dan juga jadi gadi pelayan karaoke di pinggiran pantai. Terkadang tidak ada pilihan lain untuk lepas dari itu semua. Kemiskinan membelenggu kehidupan mereka.

Siti, bercerita tentang kesetiaan seorang istri. Mengurus keluarga. Mengurus anak, mertua dan suami yang sakit permanen. Siti setia melayani suaminya, memberi makan, memandikan, dan menggantikan peran suaminya sebagai tulang punggung keluarga. Terkadang membuatnya merenung akan kehidupan yang dia jalani. Siti juga bercerita tentang perjuangan seorang istri.  Siti harus bekerja berjualan peyek di pantai dari siang hingga sore, dan malamnya sebagai gadis pelayan karaoke, demi utang utang suaminya. Siti masih tetap setia mengurus suami dan keluarganya, walau ada godaan akan kehidupan yang lebih baik yang ditawarkan lelaki lain.

Siti 4Bagaimanapun Siti tetaplah sebagai manusia biasa, seorang perempuan yang terkadang lelah menghadapi semuanya. Siti terkadang merasa bahwa tidak ada campur tangan Tuhan dalam kehidupannya. “Tuhan lagi piknik”, begitu ujarnya pada ibu mertua yang menyuruh agar dia tetap sabar. Siti juga lelah akan suami yang masih setia diurusnya malah mendiamkannya karena bekerja di tempat karaoke. Akhirnya Siti menyudahi perjalanannya setelah suaminya bicara “pergilah” saat dia menyampaikan curahan hatinya akan tawaran pinangan dari pria lain. Siti  keluar dari rumah, kabur ke arah pantai dan lautan dan menumpahkan emosinya disana.

Categories: Film | 4 Komentar

3 Nafas Likas

Satu lagi film Indonesia yang mengangkat kisah seseorang yang berjasa bagi bangsa dan Negara. Likas Tarigan, istri dari pejuang kemerdekaan Indonesia, Letjen Djamin Ginting. 3 Nafas Likas menceritakan kisah Likas sejak masa kecil di pelosok Sumatera Utara hingga menjadi istri seorang Duta Besar Indonesia di Kanada. 3 Nafa Likas mengambil periode tahun masa sebelum kemerdekaan, tahun 1930an, masa pra kemerdekaan 1940an, masa pasca kemerdekaan/ agresi militer 1946 hingga tahun 1965 gerakan 30 September, dan masa 1970an.

3 Nafas LikasPada dasarnya film ini menarik untuk ditonton, menambah referensi dan pengetahuan tentang pejuang kemerdekaan, perjuangan Likas dan suaminya Letjen. Djamin Ginting. Rako Prijanto, sutradara terbaik FFI 2013 dalam Film Sang Kyai dipercaya mengarahkan film ini. Ada kesamaan genre antara 3 Nafas Likas dan Sang Kyai, bercerita tentang ketokohan seseorang (biografi). Film ini dikemas menarik, dengan setting waktu yang panjang, dari tahun 1930an hingga 1970an. Namun film terasa datar, tidak ada klimaks dalam ceritanya. Memang tidak mudah mengangkat sebuah kisah nyata menjadi sebuah film/cerita.

Keunggulan dari film ini, menampilkan daerah daerah pedesaan dan Danau Toba yang indah, sebagai kekayaan Indonesia. Desa desa tradisional Karo dengan rumah adatnya. Kebun dan lahan pertanian sebagai sumber pendapatan masyarakat pedesaan Sumatera Utara.

Baca lebih lanjut

Categories: Film | Tinggalkan komentar

Nebengers luar biasa

Kenalkan, Eko Tamba disini. Domisili di Salemba (Jakarta Pusat) , sementara kantor di Pondok Pinang (Jakarta Selatan). Sudah hampir 2 tahun join di @nebengers, sebuah komunitas berbagi kendaraan dengan semangat kolaborasi dalam transportasi. Sudah lebih dari sebulan (mulai 5 November) nebeng rutin dengan Mas Doni (@DAlexandro) dari Kramat Sentiong ke Pondok Pinang. Kenalnya ya dari rute-rute yang diposting di @nebengers. Sebelumnya juga belum pernah ketemu.

Share Anggrek

Mas Donny dan Mba Ria, aku dan kak Ayu. Share Anggrek 

Sebelum nebeng rutin dengan Mas Doni, biasanya ke kantor naik Trans Jakarta. Dari Halte Salemba UI transit di Harmoni, terus naik yg ke Lebak Bulus. Waktu tempuh 2 jam lebih. Yang sehari hari menggunakan moda transportasi ini pasti sudah bisa membayangkan rasanya. Apalagi Bus jurusan PGC-Harmoni yang sangat minimalis. Minim datangnya dan minim kualitasnya. Bayangkan di bus kita dituntut punya ilmu melangsingkan badan, atau melenturkan badan, atau sekalian ilmu mencair biar lebih fleksibel di dalam bus. Pernah harus bergaya kayang, tangan ke belakang megang kursi ketika berdiri dibagian belakang bus. Ajaib memang. Begitulah wajah transportasi umum kita. Baca lebih lanjut

Categories: Jakarta | Tinggalkan komentar

Blog di WordPress.com.